TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG JUAL BELI KAYU SISTEM IKAT (Studi di Panglong Kayu Erniasih Desa Labuhan Maringgai Kecamatan Labuhan Maringgai Lampung Timur)

RINDI, BINTI Kholidin (2026) TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG JUAL BELI KAYU SISTEM IKAT (Studi di Panglong Kayu Erniasih Desa Labuhan Maringgai Kecamatan Labuhan Maringgai Lampung Timur). Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.

[thumbnail of BAB I DAN II DAPUS LAMPIRAN.pdf] PDF
Download (6MB)
[thumbnail of SKRIPSI RINDI.pdf] PDF
Restricted to Repository staff only

Download (6MB)

Abstract

ABSTRAK Jual beli merupakan salah satu bentuk muamalah yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam transaksi bahan bangunan seperti kayu reng atau kayu atap. Dalam pelaksanaannya, transaksi jual beli harus dilakukan secara jelas dan sesuai dengan ketentuan hukum Islam agar memenuhi rukun dan syarat jual beli. Di Panglong Kayu Erniasih Desa Labuhan Maringgai diterapkan sistem ikat, yaitu penjualan kayu yang telah diikat dalam satuan tertentu sehingga pembeli tidak dapat melihat seluruh bagian kayu secara rinci. Sistem ini dinilai lebih praktis dan ekonomis, namun menimbulkan pertanyaan mengenai keabsahan praktik jual beli tersebut menurut hukum Islam. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana praktik jual beli kayu reng dengan sistem ikat di Panglong Kayu Erniasih Desa Labuhan Maringgai Kecamatan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur dan bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap praktik jual beli tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui praktik jual beli kayu reng dengan sistem ikat serta menganalisisnya berdasarkan hukum Islam. Penelitian menggunakan metode penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif analisis. Populasi penelitian berjumlah 11 orang yang terdiri atas satu pemilik panglong, dua orang karyawan, dan delapan orang pembeli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik jual beli kayu sistem ikat di Panglong Kayu Erniasih dilakukan secara langsung di lokasi panglong. Sebelum akad berlangsung, penjual memberikan penjelasan mengenai mekanisme penjualan serta kondisi umum kayu yang berada di dalam ikatan kepada calon pembeli. Jenis, ukuran, jumlah, dan harga kayu telah diketahui serta disepakati oleh kedua belah pihak sebelum transaksi dilakukan. Berdasarkan tinjauan hukum Islam, praktik jual beli tersebut sah dan diperbolehkan karena telah memenuhi rukun dan syarat jual beli, serta dilaksanakan atas dasar suka sama suka (an taradhin), kejujuran, dan keterbukaan. Meskipun pembeli tidak dapat melihat seluruh kondisi kayu yang berada di bagian dalam ikatan, keadaan tersebut tidak memengaruhi kejelasan akad karena informasi mengenai objek jual beli telah dijelaskan sebelum transaksi berlangsung. Oleh karena itu, praktik jual beli kayu sistem ikat di Panglong Kayu Erniasih tidak termasuk praktik jual beli yang mengandung unsur gharar dan sesuai dengan ketentuan hukum Islam ABSTRACT Buying and selling is one of the most common forms of muamalah practiced in daily life, including transactions involving construction materials such as roof battens (kayu reng). In Islamic law, a sale and purchase transaction must be conducted clearly and in accordance with Islamic legal principles to ensure the validity of the contract. At Panglong Kayu Erniasih in Labuhan Maringgai Village, wood is sold using a bundle system, in which the wood is tied into bundles and sold as a unit, preventing buyers from inspecting every piece of wood individually. Although this system is considered more practical and economical, it raises questions regarding its compliance with Islamic law. This study aims to examine the practice of buying and selling roof battens using the bundle system at Panglong Kayu Erniasih in Labuhan Maringgai Village, Labuhan Maringgai District, East Lampung Regency, and to analyze the practice from the perspective of Islamic law. This research employed a qualitative field research method with a descriptive analytical approach. The research population consisted of 11 respondents, comprising one owner, two employees, and eight buyers. The findings indicate that the buying and selling of roof battens using the bundle system is conducted directly at the lumberyard. Before the contract is concluded, the seller explains the sales mechanism and the general condition of the wood contained in each bundle. The type, size, quantity, and price of the wood are clearly known and mutually agreed upon by both parties before the transaction takes place. From the perspective of Islamic law, this transaction is valid and permissible because it fulfills the essential pillars and requirements of a valid sale and purchase contract and is carried out based on mutual consent (an taradhin), honesty, and transparency. Although buyers cannot inspect the entire contents of each bundle, this condition does not affect the clarity of the contract since sufficient information regarding the object of sale has been disclosed prior to the transaction. Therefore, the practice of buying and selling roof battens using the bundle system at Panglong Kayu Erniasih does not constitute gharar and is consistent with the principles of Islamic law.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: Muamalah (Hukum Ekonomi Syariah)
Divisions: Fakultas Syariah > Muamalah (Hukum Ekonomi Syariah)
Depositing User: LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI
Date Deposited: 21 Sep 2026 08:13
Last Modified: 21 Sep 2026 08:13
URI: https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/46513

Actions (login required)

View Item View Item