MISTISISME SEBAGAI IDENTITAS SPIRITUAL MASYARAKAT JAWA PERANTAUAN (STUDI ETNOFILOSOFIS DI DESA PENUMANGAN BARU TULANG BAWANG BARAT LAMPUNG)

VINDY, CLEO AGUSTIN (2026) MISTISISME SEBAGAI IDENTITAS SPIRITUAL MASYARAKAT JAWA PERANTAUAN (STUDI ETNOFILOSOFIS DI DESA PENUMANGAN BARU TULANG BAWANG BARAT LAMPUNG). Diploma thesis, UIN Raden Intan Lampung.

[thumbnail of Draft Skripsi Final (1).pdf] PDF
Download (8MB)
[thumbnail of Draft Skripsi Final (1).pdf] PDF
Restricted to Repository staff only

Download (8MB)

Abstract

ABSTRAK Perpindahan masyarakat Jawa ke Desa Penumangan Baru, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung, melalui program transmigrasi turut membawa tradisi mistisisme Jawa, salah satunya selametan kematian, yang tetap dipertahankan meskipun bentuk pelaksanaannya mengalami penyesuaian seiring perkembangan pemahaman keagamaan masyarakat. Fenomena ini menarik dikaji karena mencerminkan negosiasi antara tradisi Jawa dan ajaran Islam tanpa menghilangkan makna spiritual di dalamnya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk praktik mistisisme Jawa dalam ritual selametan kematian serta mengungkap konstruksi filosofis berupa makna dan nilai spiritual yang melandasinya sebagai identitas spiritual masyarakat Jawa perantauan. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif, menggunakan pendekatan etnofilosofis sebagai pendekatan utama dan fenomenologi sebagai perspektif pendukung. Data dikumpulkan melalui observasi nonpartisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, lalu dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diinterpretasikan secara hermeneutik dan etnofilosofis berdasarkan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mistisisme Jawa dalam tradisi selametan kematian tetap dipertahankan melalui pembacaan Surah Yasin, tahlil, dan doa bersama yang dipadukan dengan sebagian unsur budaya Jawa. Tradisi tersebut dimaknai sebagai sarana mendoakan orang yang meninggal, penghormatan kepada leluhur, penguat solidaritas sosial, dan pelestarian budaya Jawa, dengan nilai filosofis mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, penghormatan kepada yang telah wafat, kebersamaan, dan pelestarian budaya. Mistisisme Jawa dikonstruksi sebagai identitas spiritual melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Dapat disimpulkan bahwa keberlangsungan mistisisme Jawa tidak terutama ditentukan oleh bentuk ritual, melainkan oleh makna, nilai filosofis, dan pandangan hidup yang diwariskan antargenerasi masyarakat Jawa perantauan. Kata Kunci: Mistisisme Jawa, Identitas Spiritual, Masyarakat Jawa Perantauan, Selametan Kematian, Etnofilosofis, Konstruksi Sosial. ABSTRACT This study examines Javanese mysticism among the Javanese migrant community in Penumangan Baru Village, West Tulang Bawang Regency, Lampung, focusing on the tradition of selametan kematian (death ritual). This study aims to describe the forms of Javanese mystical practices in the selametan kematian ritual and to reveal the philosophical construction in the form of meanings and spiritual values underlying these practices in the lives of the Javanese migrant community. This research is a field study (field research) employing a descriptive qualitative approach. An ethnophilosophical approach was used as the primary approach, with phenomenology as a supporting perspective. Data were collected through non-participant observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis employed the interactive model of Miles and Huberman through data reduction, data presentation, and conclusion drawing, followed by hermeneutic interpretation and ethnophilosophical analysis. The social construction theory of Peter L. Berger and Thomas Luckmann was used to analyze the formation of the community’s spiritual identity. The findings show that Javanese mysticism in the selametan kematian tradition continues to be maintained through the practice of selametan, combined with the recitation of Surah Yasin, tahlil, and communal prayers, although some cultural elements have undergone adaptation. The tradition is understood as a means of praying for the deceased, expressing respect for the deceased, strengthening social solidarity, and preserving Javanese cultural heritage. Its philosophical values include the relationship between humans and God, respect for the deceased, togetherness, and cultural preservation. This study finds that Javanese mysticism is constructed as a spiritual identity through the processes of externalization, objectivation, and internalization. Its continuity is determined not primarily by the preservation or transformation of ritual forms, but by the continuity of meanings, philosophical values, and worldview transmitted across generations. Keywords: Javanese Mysticism, Spiritual Identity, Javanese Migrant Community, Selametan Kematian, Ethnophilosophical Approach, Social Construction.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: Ilmu Aqidah
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Aqidah Filsafat
Depositing User: LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI
Date Deposited: 21 Sep 2026 07:57
Last Modified: 21 Sep 2026 07:57
URI: https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/46512

Actions (login required)

View Item View Item