TRADISI NGIDAG ENDHOG DALAM PERNIKAHAN ADAT JAWA PERSPEKTIF SADDU DZARIYAH (Studi pada Masyarakat Adat Jawa di Desa Sidodadi Kecamatan Bukit Kemuning Kabupaten Lampung Utara)

HAFID, FADILAH AL FAHMI (2026) TRADISI NGIDAG ENDHOG DALAM PERNIKAHAN ADAT JAWA PERSPEKTIF SADDU DZARIYAH (Studi pada Masyarakat Adat Jawa di Desa Sidodadi Kecamatan Bukit Kemuning Kabupaten Lampung Utara). Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.

[thumbnail of PERPUS PUSAT.pdf] PDF
Download (4MB)
[thumbnail of SKRIPSI HAFID FADILAH AL FAHMI.pdf] PDF
Restricted to Repository staff only

Download (4MB)

Abstract

ABSTRAK Pernikahan adalah untuk menciptakan keluarga yang Sakinah Mawaddah dan Warohmah. Islam mengatur pernikahan mulai berasal dari rukun, syarat serta tentang walimah islam mengharuskan suatu rukun dan kondisi harus terpenuhi, islam juga mengajarkan wacana niai yang baik pada Walimah Al Ursy, Walimah al ursy yang ada diwilayah satu dengan yang lainnya tidak singkron, seperti yang dilakukan pada masyarakat di tempat saya tinggal dimana memiliki adat jawa yang sangat kental.Pernikahan tata cara tradisi Ngidag Endhog dilakukan sesudah kedua mempelai melangsungkan akad nikah. Mempelai laki-laki menginjak telur ayam kampung memakai kaki kanan yang umumnya telur di letakan pada atas nampan betabur bunga melati, kelopak mawar kenanga serta irisan daun pandan telur itu diinjak tanpa memakai alas kaki, dilanjutkan dengan mempelai wanita membersihkan kaki oleh suami menggunakan air bunga setampan, lalu mempelai perempuan mengelap hingga bersih kaki tadi. Mempelai wanita mengaturkan sembah pada suami, yang di sambut menggunakan uluran tangan untuk membantu mempelai wanita berdiri. Makna berasal berlangsungnya aktivitas tadi, yang pertama adalah telur dianggap semacam asa memperoleh keturunan dan hal ini juga dijadikan simbol keluarga yang tertutup kedap serta wajib terjaga, telur juga menjadi lambang kesucian seorang wanita, makna dari memecah telur berarti bahwa mempelai laki-laki tadi berhak atas kesucian sang calon mempelai wanita. Kata saddu berarti (menutup) dan kata dzariyah berarti (wasilah) atau (jalan ke suatu tujuan). Dengan demikian saddu dzariyah secara bahasa berarti menutup jalan kepada suatu tujuan.Saddu dariyah adalah perbuatan yang dilakukan seorang sebelumnya mengandung kemasalahatan, tetapi berakhir kepada suatu kerusakan. Tujuan berasal penelitian ini merupakan pada waktu saya mengahadiri pernikahan sudara pada desa saya sendiri, saya melihat masih sangat kental adat istiadat jawa, salah satunya tradisi Ngidag Endhog ini yang menjadi daya tarik saya untuk mengetahuinya.Bagaimana perspetif saddu dariyah terhadap tradisi/ kebiasaan Ngidag Endhog yang dianggap sebagai kesucian pada sebuah pernikahan yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Sidodadi Kecamatan Bukit Kemuning Kabupaten Lampung Utara. Apa yang di maksud dengan tradisi Ngidag Endhog dalam resepsi pernikahan dan faktor yang berakibat tradisi masih saja dilakukan dan diyakini sampai kini. Dengan pendekatan kualitiatif, skripsi ini akan menggambarkan beberapa data yang diperoleh dari lapangan, baik dengan wawancara, observasi, maupun dokumentasi menjadi metode pengumpulan data. Kemudian dilanjutkan menggunakan proses editing, diklasifikasikan kemudian dianalisa, selain itu, proses analisa tadi juga didukung menggunakan kajian pustaka sebagai referensi untuk memperkuat data yang diperoleh dari lapangan. ABSTRACT The goal of marriage is to create a family that is Sakinah, Mawaddah, and Warahmah. Islam regulates marriage starting from the pillars (arkun), requirements (shurut), and the wedding feast (walimah). Islam requires certain pillars and conditions to be met; it also teaches noble values in walimah al-ursy, which is held as a form of gratitude and aims to announce the marriage to the general public. However, the practices of walimah al-ursy vary from one region to another, such as those practiced by the community where I live, which possesses very strong Javanese customs. The traditional ritual of Ngidag Endhog (stepping on an egg) is performed after the bride and groom carry out the marriage contract (akad nikah). The groom steps on a free-range chicken egg with his right foot; the egg is typically placed on a tray strewn with jasmine flowers, rose petals, cananga, and sliced pandan leaves. The egg is crushed with bare feet, followed by the bride cleaning the husband's feet using flower water, and then wiping them clean. The bride then offers a respectful salute (sembah) to the husband, who responds by reaching out his hand to help the bride stand up. The meaning behind this activity is twofold: first, the egg is regarded as a hope for obtaining offspring and serves as a symbol of a tightly-knit family that must be protected. The egg also symbolizes a woman's purity; the act of breaking the egg signifies that the groom now has the right over the bride's purity."The word saddu means 'to close' and the word dzariyah means 'means' or 'a path to a goal.' Thus, linguistically, Saddu Dzariyah means closing the path to a certain objective. Technically, Saddu Dzariyah refers to an action performed by an individual that initially contains benefits (maslahah) but ultimately leads to harm or corruption (mufsadah). The objective of this research arose when I attended a relative's wedding in my own village, where I observed that Javanese customs remain very strong. One such tradition is Ngidag Endhog, which piqued my interest for further study. This research explores the perspective of Saddu Dzariyah toward the Ngidag Endhog tradition, which is regarded as a symbol of purity in marriages performed by the community in Sidodadi Village, Bukit Kemuning District, North Lampung Regency. It examines the meaning of the Ngidag Endhog tradition in wedding receptions and the factors that cause this tradition to persist and be believed in until today. Using a qualitative approach, this thesis describes data obtained from the field through interviews, observations, and documentation as data collection methods. The process continues with data editing, classification, and analysis. Furthermore, the analysis is supported by a literature review as a reference to strengthen the data obtained from the field.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga)
Divisions: Fakultas Syariah > Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga)
Depositing User: LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI
Date Deposited: 10 Aug 2026 04:15
Last Modified: 10 Aug 2026 04:15
URI: https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/45835

Actions (login required)

View Item View Item