MERA, ARYANI (2026) SASUDUK DALAM ADAT PERKAWINAN LAMPUNG SAIBATIN MENURUT HUKUM ISLAM (Studi Di Desa Gedung Cahya Kuningan Kecamatan Ngambur Kabupaten Pesisir Barat). Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.
|
PDF
Download (6MB) |
Abstract
ABSTRAK Tradisi sasuduk atau hiyokh sumbai merupakan praktik pemberian bantuan dalam perkawinan adat Lampung Saibatin yang masih dilestarikan di Desa Gedung Cahya Kuningan, Kecamatan Ngambur, Kabupaten Pesisir Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pelaksanaan tradisi sasuduk dan mengkaji pandangan hukum Islam terhadap praktik tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan field research melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian meliputi tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat yang menjalankan tradisi sasuduk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sasuduk dilaksanakan melalui pemberian bahan makanan pokok, uang tunai, atau hewan ternak yang dicatat secara detail oleh petugas khusus dengan sistem pengembalian yang bersifat resiprokal. Tradisi ini telah menjadi keharusan sosial dengan sanksi berupa gunjingan masyarakat dan tidak mendapat bantuan ketika mengadakan hajatan sendiri. Dari perspektif hukum Islam, hakikat sasuduk sebagai bentuk tolong-menolong dalam kebaikan sesuai dengan ajaran Islam. Namun, sistem pencatatan dan kewajiban pengembalian yang menyerupai hutang piutang serta sanksi sosial yang keras bertentangan dengan prinsip keikhlasan dan kesukarelaan dalam berinfak yang diajarkan Islam. Tradisi sasuduk perlu dikembalikan kepada hakikat gotong royong yang ikhlas dan sukarela agar selaras dengan nilai-nilai Islam. ABSTRACT The sasuduk or hiyokh sumbai tradition is a practice of giving assistance in traditional Lampung Saibatin weddings that is still preserved in Gedung Cahya Kuningan Village, Ngambur District, Pesisir Barat Regency. This study aims to analyze the implementation process of the sasuduk tradition and examine the Islamic legal perspective on this practice. The study used a descriptive qualitative method with a field research approach through indepth interviews, participatory observation, and documentation. Research informants included traditional leaders, religious leaders, community leaders, and members of the community who practice the sasuduk tradition. The results show that sasuduk is carried out through the provision of staple foods, cash, or livestock that are recorded in detail by special officers with a reciprocal return system. This tradition has become a social obligation with sanctions in the form of public gossip and not receiving assistance when holding one's own celebration. From an Islamic legal perspective, the essence of sasuduk as a form of mutual assistance in goodness is in accordance with Islamic teachings. However, the recording system and repayment obligations that resemble debts and harsh social sanctions contradict the principles of sincerity and voluntary almsgiving taught by Islam. The tradition of sasuduk needs to be returned to the essence of sincere and voluntary mutual cooperation so that it is in line with Islamic values.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga) |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga) |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 24 Jun 2026 04:07 |
| Last Modified: | 24 Jun 2026 04:07 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/44434 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


