AHDA, SABILA (2026) PENDIDIKAN HUKUM ISLAM DAN TRANSFORMASI SOSIAL: SEBUAH STUDI PENERIMAAN KRITIS MASYARAKAT TERHADAP TRADISI UANG PELANGKAH. Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.
|
PDF
Download (8MB) |
Abstract
ABSTRAK Artikel ini mengkaji ketegangan antara Hukum Islam (Fiqh Munakahat) dan tradisi Uang Pelangkah di Palembang, khususnya di Kabupaten Indralaya. Uang Pelangkah telah bergeser dari simbol etika menjadi persyaratan finansial yang memberatkan, bertentangan dengan prinsip taysir (kemudahan) dalam pernikahan Islam, sehingga membebani calon pengantin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fungsi Pendidikan Hukum Islam (PHI) sebagai penggerak transformasi sosial dan menggambarkan manifestasi penerimaan kritis dalam masyarakat Palembang terhadap unsur-unsur yang memberatkan dalam tradisi Uang Pelangkah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode penelitian lapangan. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap pasangan muda, tokoh adat, dan akademisi PHI di Indralaya, Ogan Ilir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PHI efektif dalam membentuk penalaran kritis yang memicu masyarakat untuk aktif menegosiasikan tradisi tersebut. Penerimaan kritis ini diwujudkan dalam bentuk penurunan nilai nominal yang drastis, konversi Uang Pelangkah menjadi pemberian yang bermanfaat, atau pengabaian oleh keluarga pihak perempuan. Hasilnya, PHI telah berhasil mengubah norma-norma adat yang bersifat wajib menjadi norma-norma etika yang bersifat opsional dan selaras dengan maqasid al-syariah. Artikel ini berkontribusi pada bidang sosiologi hukum Islam dengan menawarkan model penerimaan kritis sebagai mekanisme mediasi yang cerdas antara syariat dan adat, serta menegaskan pendidikan hukum Islam sebagai agen sentral dalam mereformasi norma-norma sosial di tingkat akar rumput. ABSTRACT This article examines the tension between Islamic Law (Fiqh Munakahat) and the traditional Uang Pelangkah tradition in Palembang, particularly in Indralaya District. Uang Pelangkah has shifted from an ethical symbol to a burdensome financial requirement that contradicts the principle of taysir (ease) in Islamic marriage, creating a burden on the prospective bride and groom. This study seeks to examine the function of Islamic Legal Education (ILE) as a driver of social transformation and to delineate the manifestations of critical acceptance within the Palembang community regarding the burdensome elements of the Uang Pelangkah tradition. The study uses a descriptive qualitative approach with field research methods. Primary data were collected through in-depth interviews and observations of young couples, traditional leaders, and ILE academics in Indralaya, Ogan Ilir. The results indicate that ILE is effective in forming critical reasoning that triggers the community to actively negotiate the tradition. This critical acceptance is manifested in the form of a drastic decrease in the nominal value, the conversion of Uang Pelangkah into a beneficial gift, or its neglect by the woman's family. As a result, ILE has succeeded in transforming mandatory customary norms into optional ethical norms that align with the maqasid al- shari'ah. This article contributes to the field of Islamic sociology of law by offering a critical reception model as an intelligent mediation mechanism between sharia and custom and affirming the ILE as a central agent in reforming social norms at the grassroots level.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga) |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga) |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 10 Feb 2026 04:45 |
| Last Modified: | 10 Feb 2026 04:45 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/42718 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


