Aulida, Dwi Yola Dinata (2026) STATUS PEMBATALAN ANAK ADOPSI DALAM PERSPEKTIF MAQĀṢID AL-SYARĪ‘AH (Studi Putusan Pengadilan Nomor 3/Pdt.G/2020/PN Srl). Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.
|
PDF
Download (7MB) |
|
|
PDF
Restricted to Repository staff only Download (7MB) |
Abstract
ABSTRAK Status anak adopsi dalam Islam memiliki posisi yang berbeda dengan sistem adopsi yang berlaku secara hukum positif di Indonesia. Dalam perspektif syariah, anak adopsi tidak memiliki hubungan nasab dan tidak berhak atas warisan orang tua angkat. Hal ini seringkali menimbulkan pertentangan antara praktik sosial hukum dengan prinsip-prinsip Maqāṣid al-Syarī„ah. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pertimbangan hukum atas pembatalan adopsi yang dikeluarkan oleh hakim sehingga baik anak atau orang tua angkat ke depannya tidak terjadi konflik penuntutan hak masing-masing, serta untuk mengetahui lebih dalam terkait status pembatalan anak adopsi sesuai dengan prinsip Maqāṣid al-Syarī„ah. Penelitian menggunakan pendekatan normatif yuridis, yakni menelaah ketentuan hukum Islam dan hukum positif serta menelaah putusan pengadilan secara kualitatif. Fokus utama tertuju pada lima prinsip Maqāṣid al-Syarī„ah: menjaga agama (Ḥifẓ al-Dīn), jiwa (Ḥifẓ al-Nafs), akal (Ḥifẓ al-„Aql), keturunan (Ḥifẓ al-Nasl), dan harta (Ḥifẓ al-Māl). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Status pembatalan anak adopsi yang telah disahkan secara hukum negara namun tidak sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam, perlu ditinjau kembali berdasarkan Maqāṣid al-Syarī„ah. Islam menolak pengangkatan anak yang menyebabkan perubahan nasab, karena bertentangan dengan prinsip perlindungan terhadap keturunan (Ḥifẓ al-Nasl). Pembatalan status tersebut justru menjadi bentuk penjagaan terhadap kemurnian identitas anak, menjaga kejelasan hukum waris, serta mencegah timbulnya kerancuan sosial. Oleh sebab itu, dalam konteks syariat, pengasuhan anak hanya dibenarkan dalam bentuk Kafālah, bukan adopsi dengan perubahan status nasab. pembatalan status adopsi anak sejalan dengan perlindungan lima tujuan utama Maqāṣid al-Syarī„ah, khususnya dalam aspek perlindungan agama, keturunan, dan harta. Dalam hal ini, status anak angkat sebagai ahli waris dalam hukum positif bisa merusak tatanan pembagian harta waris yang telah diatur dalam syariat. ABSTRACT The status of adopted children in Islam differs significantly from the adoption system applied under Indonesia‟s positive law. In Islamic perspective, an adopted child does not possess a lineage relationship (nasab) and has no rights to inherit from adoptive parents. This contrast often leads to conflicts between legal-social practices and the principles of Maqāṣid al-Syarī„ah. This study investigates the legal considerations behind the cancellation of adoption issued by the court, aiming to prevent future conflicts over rights between adoptive parents and adopted children. It also seeks to explore the legal status of adoption annulment based on the principles of Maqāṣid alSyarī„ah. This study uses a normative juridical approach by examining Islamic legal principles, positive law, and analyzing the court ruling qualitatively. The analysis centers on the five core principles of Maqāṣid al-Syarī„ah: protection of religion (Ḥifẓ al-Dīn), life (Ḥifẓ alNafs), intellect (Ḥifẓ al-„Aql), lineage (Ḥifẓ al-Nasl), and wealth (Ḥifẓ al-Māl). The findings show that the annulment of an adoption—although previously legalized under national law but contradicting Islamic teachings—must be reassessed under the lens of Maqāṣid al-Syarī„ah. Islam rejects any form of adoption that alters lineage due to its contradiction with the principle of lineage protection (Ḥifẓ al-Nasl). Thus, the annulment serves as a form of safeguarding the child‟s true identity, ensuring clarity in inheritance laws, and preventing future social confusion. In this context, child care in Islam is only permissible through Kafālah (custodianship), not adoption that changes nasab. The annulment aligns with the five objectives of Maqāṣid al-Syarī„ah, especially in protecting religion, lineage, and wealth. Granting adopted children legal inheritance rights under positive law may disrupt the Islamic system of inheritance distribution.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga) |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga) |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 29 Jan 2026 06:43 |
| Last Modified: | 29 Jan 2026 06:43 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/42541 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


