NURUL, KOMARIAH (2025) PERKEMBANGAN DESA RELIGI DAN WISATA KILUAN NEGERI KECAMATAN KELUMBAYAN KABUPATEN TANGGAMUS TAHUN 1977-2017. Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.
|
PDF
Download (4MB) |
|
|
PDF
Restricted to Repository staff only Download (5MB) |
Abstract
ABSTRAK Penelitian ini mengkaji perkembangan Desa Religi dan Wisata Kiluan Negeri di Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, Lampung selama periode 1977-2017 melalui pendekatan sejarah local. Rumusan masalah penelitian mencakup: (1) bagaimana sejarah awal berdirinya Desa Kiluan Negeri tahun 1977-2017, (2) bagaimana perkembangan aspek religius di Desa Kiluan Negeri tahun 1977-2017, dan (3) bagaimana perkembangan sektor pariwisata di Desa Kiluan Negeri tahun 1977-2017.Studi ini bertujuan untuk menghubungkan masyarakat dengan kesadaran sejarahnya sendiri dan mengungkap transformasi luar biasa sebuah desa dari wilayah keras yang nyaris tidak berpenghuni menjadi destinasi wisata yang menarik. Penelitian ini menggunakan metode historis dengan pendekatan heuristik dalam pengumpulan data. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan di Kantor Desa Kiluan Negeri, studi arsip dan profil desa, serta wawancara mendalam untuk mengumpulkan sejarah lisan. Data sekunder dikumpulkan dari literatur, artikel ilmiah, jurnal, dan sumber digital yang relevan dengan perkembangan desa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nama "Kiluan" berasal dari legenda lokal tokoh sakti Khadin Mas Antawijaya yang mengandung makna simbolik "permintaan" mendalam. Wilayah ini awalnya merupakan habitat keras dengan fauna buas seperti gajah dan harimau Sumatera, serta dipenuhi mitos spiritual tentang keberadaan "sekeddi". Titik balik fundamental terjadi pada 1977 ketika 11 imigran dari Bali, termasuk Made Rege, Wayan Budane, dan Nedie, mulai menghuni wilayah melalui negosiasi dengan pemilik lahan Haji Azhari Gelar Pangeran Jaya Sampurna dengan pembayaran 55.000 rupiah per orang. Pada 14 April 2007, Kiluan Negeri resmi memekarkan diri dari Desa/Pekon Negeri Kelumbayan dengan luas 400,7 Ha yang terbagi dalam enam dusun: Bandung Jaya, Kiluan Balak, Sukamahi, Teluk Baru, dan Teluk Bekhak. Perkembangan aspek religi menunjukkan adaptasi nilai-nilai spiritual tradisional dengan modernisasi, sementara sektor pariwisata mengalami evolusi dari potensi alam yang belum termanfaatkan menjadi destinasi wisata bahari dan konservasi yang dikenal luas. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman sejarah lokal dan menjadi referensi pengembangan desa serupa di wilayah pesisir Lampung. Kata kunci : Kiluan Negeri, sejarah desa, wisata religi, imigrasi Bali, Tanggamus, transformasi sosial ii ABSTRACT This study examines the development of the Religious and Tourism Village of Kiluan Negeri in Kelumbayan Sub-district, Tanggamus Regency, Lampung during the period 1977-2017 through a local history approach. The research problem formulation includes: (1) how was the early history of the establishment of Kiluan Negeri Village from 1977-2017, (2) how was the development of religious aspects in Kiluan Negeri Village from 1977-2017, and (3) how was the development of the tourism sector in Kiluan Negeri Village from 1977-2017. This study aims to connect the community with their own historical consciousness and reveal the extraordinary transformation of a village from a harsh, nearly uninhabited area into an attractive tourist destination. This research employs historical methods with a heuristic approach in data collection. Primary data was obtained through field observations at the Kiluan Negeri Village Office, archival studies and village profiles, as well as in-depth interviews to collect oral history. Secondary data was collected from literature, scientific articles, journals, and digital sources relevant to village development. Research findings indicate that the name "Kiluan" originates from the local legend of the sacred figure Khadin Mas Antawijaya, which contains the symbolic meaning of profound "request." This area was initially a harsh habitat with wild fauna such as elephants and Sumatran tigers, and was filled with spiritual myths about the existence of "sekeddi." A fundamental turning point occurred in 1977 when 11 immigrants from Bali, including Made Rege, Wayan Budane, and Nedie, began inhabiting the area through negotiations with landowner Haji Azhari titled Pangeran Jaya Sampurna with payment of 55,000 rupiah per person. On April 14, 2007, Kiluan Negeri officially separated from Negeri Kelumbayan Village/Pekon with an area of 400.7 hectares divided into six hamlets: Bandung Jaya, Kiluan Balak, Sukamahi, Teluk Baru, and Teluk Bekhak. The development of religious aspects shows the adaptation of traditional spiritual values with modernization, while the tourism sector has evolved from untapped natural potential into a widely recognized marine tourism and conservation destination. This research contributes to the understanding of local history and serves as a reference for the development of similar villages in the coastal areas of Lampung. Keywords : Kiluan Negeri, village history, religious tourism, Balinese immigration, Tanggamus, social transformation
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Sejarah Peradaban Islam |
| Divisions: | Fakultas Adab > Sejarah Peradaban Islam |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 17 Dec 2025 03:30 |
| Last Modified: | 17 Dec 2025 03:30 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/41977 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


