JOKO, SETIAWAN (2025) TRANSFORMASI TRADISI SAWERAN DALAM SUKU SUNDA DI DESA WAY HARONG KABUPATEN PESAWARAN. Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.
|
PDF
Download (2MB) |
|
|
PDF
Restricted to Repository staff only Download (2MB) |
Abstract
ABSTRAK Saweran dalam pandangan masyarakat secara umum identik dengan persepsi yang negatif yang bermakna memberikan uang kepada seorang penyanyi. Namun pada suku Sunda, saweran dianggap sebagai ungkapan rasa syukur dan simbol keberkahan. Tradisi saweran lazimnya dilakukan pada acara pernikahan Sunda. Hal yang membedakan tradisi saweran di desa Way Harong yakni dilakukan berbagai momen seperti sembuh dari sakit, anak bisa berjalan, kelulusan, dan sebagainya. Berbagai faktor menimbulkan beberapa perubahan dalam tradisi saweran baik dalam makna, alat yang digunakan, maupun pelaksanaan tradisi. Selain perubahan pada tradisi saweran, hal ini berdampak pada praktik keagamaan. Penelitian ini juga akan membahas tentang peran agama dalam proses perubahan tradisi saweran dalam suku Sunda di desa Way Harong Kabupaten Pesawaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan (field research) serta menggunakan pendekatan antropologi dan sosiologis. Metode pengumpulan data untuk mendukung penelitian dilakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan beberapa informan dalam penelitian ini melibatkan bapak Alamsyah selaku kepala desa, sesepuh adat serta beberapa masyarakat desa Way Harong untuk menunjang penelitian sesuai dengan fakta yang ada dilapangan. Data sekunder diperoleh dari data atau dokumentasi, buku-buku literatur, dan jurnal. Hasil dalam penelitian ini membuktikan bahwa tradisi saweran telah mengalami pergeseran dalam berbagai aspek seiring dengan perkembangan zaman. Tradisi saweran dalam masyarakat Sunda di Desa Way Harong menunjukkan dinamika transformasi yang kompleks. Simbol-simbol tradisional seperti beras, kunyit, dan uang receh yang dahulu sarat makna spiritual kini bergeser menjadi benda-benda modern seperti uang kertas, alat elektronik, atau voucher. Pergeseran makna pun terjadi: jika sebelumnya saweran dimaknai secara religius dan spiritual, kini cenderung ii iii diposisikan sebagai hiburan semata, khususnya oleh generasi muda. Norma pelaksanaannya juga melonggar, di mana juru sawer tidak lagi terbatas pada tokoh adat melainkan dapat dilakukan oleh siapa saja. Bacaan mantra tradisional telah bertransformasi dengan memasukkan unsur keislaman seperti ayat-ayat Al-Qur’an. Di sisi lain, partisipasi masyarakat terhadap prosesi ini menurun karena dianggap sebagai formalitas belaka. Pengaruh modernisasi turut mewarnai saweran melalui iringan musik dan dokumentasi digital yang digunakan untuk kepentingan media sosial. Transformasi ini tidak hanya mencerminkan perubahan budaya, tetapi juga berdampak langsung pada praktik keagamaan masyarakat. Saweran tetap menjadi ruang penting untuk mempererat silaturahmi, menghadirkan suasana hangat dan kebersamaan antarwarga. Prosesi ini juga menjadi ajang sedekah bagi penyelenggara, membagikan kebahagiaan sebagai bentuk syukur dan kepedulian terhadap sesama. Jika dilaksanakan dengan niat yang baik, maka saweran dapat menjadi bentuk ibadah yang mendatangkan keberkahan dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Lebih jauh, saweran berperan dalam membentuk kesadaran sosial, memperkuat kepedulian terhadap masyarakat sekitar, dan menumbuhkan rasa kebersamaan yang mendalam. Kata Kunci : Tradisi, Transformasi, Saweran
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Perbandingan Agama |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Perbandingan Agama |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 30 Oct 2025 03:15 |
| Last Modified: | 30 Oct 2025 03:15 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/41280 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


