NURVIA, DAMAYANTI (2025) FENOMENA EATING OUT KAUM MUDA MUSLIM KOTA DALAM PERSPEKTIF HERBERT MARCUSE. Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.
|
PDF
Download (3MB) |
|
|
PDF
Restricted to Repository staff only Download (3MB) |
Abstract
ABSTRAK Nurvia Damayanti, 2025. “Fenomena Eating out Kaum Muda Muslim Kota dalam Perspektif Herbert Marcuse” Penelitian ini mengkaji tentang fenomena eating out yang dilakukan masyarakat Bandar Lampung terutama pada kaum muda dan menjadi gaya hidup baru sehingga menjadikan masyarakat muda yang konsumtif. Kegiatan eating out beiringan dengan semakin banyaknya kafe dan restoran di Bandar Lampung yang menjadikan berubahnya budaya makan yang dulunya sebagai pemenuhan kebutuhan dasar kini menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi yang membentuk realitas-realitas palsu yang disebut Herbert Marcuse sebagai kebutuhan palsu. Perilaku konsumtif yang berubah menjadi gaya hidup konsumtif dalam pandangan Marcuse merupakan bias dari sistem kapitalisme. Kondisi masyarakat muda yang dengan tanpa sadar menapaki gaya hidup tersebut sama halnya seperti masyarakat industri modern yang oleh Marcuse dinamakan dengan manusia satu dimensi. dalam istilah Marcuse, kebutuhan asli telah tergantikan oleh kebutuhan artifisial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana fenomena eating out dan mendeskripsikan fenomena eating out dalam perspektif Herbert Marcuse. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali motif dari kegiatan eating out. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisi data menggunakan Teknik analisis data deskriptif, interpretasi dan fenomenologi. Penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan eating out telah menjadi bagian integral dari gaya hidup kaum muda perkotaan. Aktivitas makan di luar rumah tidak lagi semata-mata berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan biologis, melainkan telah berkembang menjadi sarana untuk mengekspresikan diri, membangun citra sosial, serta mengikuti tren yang berkembang di masyarakat. Beberapa faktor utama yang mendorong eating out di kalangan anak muda antara lain: Kenyamanan dan Praktis, Kaum muda cenderung memilih makan di luar karena tidak ingin direpotkan dengan memasak, apalagi bagi mereka yang hidup sendiri atau memiliki mobilitas tinggi. Sarana Sosialisasi, Eating outiii menjadi momen untuk berkumpul bersama teman, keluarga, atau pasangan, serta dianggap sebagai kegiatan rekreatif untuk melepas penat. Pengaruh Media Sosial dan Tren, Banyaknya tempat makan baru yang estetik dan viral di media sosial menimbulkan keinginan untuk mencoba dan ikut serta dalam tren tersebut. Hal ini menciptakan dorongan konsumsi berbasis visual dan eksistensi sosial. Simbol Status dan Gaya Hidup, Pilihan tempat makan juga menjadi representasi dari gaya hidup yang ingin ditampilkan, sehingga eating out di tempat tertentu menjadi simbol identitas, bukan sekadar aktivitas makan biasa. Dalam perspektif teori One-Dimensional Man oleh Herbert Marcuse, perilaku eating out ini dapat dipandang sebagai bagian dari kebutuhan palsu yang dikonstruksi oleh sistem kapitalisme dan budaya konsumerisme. Kaum muda telah terintegrasi dalam logika konsumsi yang mengaburkan batas antara kebutuhan nyata dan keinginan sosial, sehingga mereka cenderung mengikuti pola konsumsi tanpa sikap kritis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa eating out merupakan praktik budaya konsumsi yang dipengaruhi oleh berbagai aspek sosial, ekonomi, dan media, dan telah menjadi representasi dari gaya hidup kaum muda di era masyarakat modern dan digital. ABSTRACT Nurvia Damayanti, 2025. ““The Phenomenon of Eating Out among Urban Muslim Youth in the Perspective of Herbert Marcuse” This research examines the phenomenon of eating out practiced by the people of Bandar Lampung, particularly among young people, which has become a new lifestyle and, in turn, created a more consumptive youth society. The rise of eating out has been accompanied by the increasing number of cafés and restaurants in Bandar Lampung, which has shifted the culture of eating from merely fulfilling basic needs to becoming a necessity that must be met. This, in turn, shapes false realities, which Herbert Marcuse refers to as “false needs.” Consumptive behavior that evolves into a consumptive lifestyle, in Marcuse’s view, represents a bias generated by the capitalist system. The condition of young people unconsciously adopting this lifestyle parallels that of modern industrial society, which Marcuse terms the “one-dimensional man.” In Marcuse’s concept, genuine needs have been replaced by artificial needs The purpose of this study is to describe the phenomenon of eating out and to interpret it through Herbert Marcuse’s perspective. This research employs a qualitative approach to explore the motives behind eating out activities. Data collection techniques include interviews, observations, and documentation. Data were analyzed using descriptive, interpretative, and phenomenological analysis methods The findings of this study show that eating out has become an integral part of the urban youth lifestyle. Eating out is no longer solely a way to meet biological needs, but has developed into a means of self-expression, building social image, and keeping up with prevailing trends. Several key factors encourage eating out among young people, including: Convenience and Practicality: Young people often prefer eating out because they want to avoid the hassle of cooking, especially those who live alone or have high mobility. Socialization Medium: Eating out serves as a moment to gather with friends, family, or partners, and is regarded as a recreational activity to relieve stress. Influence of Social Media and Trends: The proliferation of new, aesthetically appealing, and viral dining places on social media creates the desire to try and participatev in these trends. This drives consumption based on visual appeal and social existence. Status Symbol and Lifestyle: Dining choices also represent the lifestyle one wishes to portray, making eating out at certain places a marker of identity rather than merely an act of eating. From the perspective of Herbert Marcuse’s OneDimensional Man theory, eating out can be seen as part of the false needs constructed by the capitalist system and consumerist culture. Young people have become integrated into the logic of consumption that blurs the line between genuine needs and social desires, leading them to follow consumption patterns without critical awareness. In conclusion, eating out represents a cultural consumption practice influenced by social, economic, and media factors, and has become a representation of youth lifestyles in the modern digital society.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Aqidah Filsafat Aqidah Filsafat |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Aqidah Filsafat |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 23 Sep 2025 08:54 |
| Last Modified: | 23 Sep 2025 08:54 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/40683 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


