ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PROSESI WIJIKAN DALAM PERNIKAHAN ADAT JAWA DI DESA GIRIKARTO LAMPUNG TIMUR

SHINTIA, DEWI ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PROSESI WIJIKAN DALAM PERNIKAHAN ADAT JAWA DI DESA GIRIKARTO LAMPUNG TIMUR. https://jurnal.balitbangda.lampungprov.go.id/index.php/jip/issue/view/45.

[thumbnail of FULL SHINTIA.pdf] PDF
Download (6MB)

Abstract

Abstrak: Prosesi wijikan merupakan salah satu rangkaian dalam upacara pernikahan adat jawa yang masih dilestarikan oleh Masyarakat di Desa Girikarto, Lampung Timur. Prosesi wijikan merupakan prosesi yang dimana mempelai wanita mencuci kaki suami sebagai simbol penghormatan dan pengabdian dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Meskipun memiliki nilai budaya yang kuat, prosesi ini menimbulkan perdebatan terkait kesesuaian dengan prinsip kesetaraan serta kemungkinan adanya unsur yang bertentangan dengan ajaran agama islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik wijikan dalam perspektif hukum Islam, dan melihat apakah prosesi tersebut sejalan atau bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat islam. Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif dan normatif. Data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan tokoh agama, tokoh adat, serta 1 2 kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi wijikan diinterpretasikan sebagai bentuk simbolik, bukan perendahan martabat perempuan, serta tidak disertai unsur ritual yang menyimpang dari syariat dalam perspektif hukum Islam, selama tidak terdapat unsur syirik maka prosesi ini dapat diterima sebagai adat yang diperbolehkan. Jadi prosesi wijikan tergolong sebagai „urf shahih yang mencerminkan nilai penghormatan dan kesiapan dalam membina rumah tangga. Oleh karena itu, penyesuaian terhadap prosesi wijikan perlu dilakukan untuk menghindari unsur yang bertentangan dan kesetaraan dalam Islam, sambil tetap mempertahankan nilai nilai budaya yang tidak merugikan pihak mana pun. Kata kunci : Hukum Islam, Pernikahan Adat Jawa, Prosesi Wijikan Abstract: The wijikan procession is one of the series of Javanese traditional wedding ceremonies that are still preserved by the community in Girikarto Village, East Lampung. The wijikan procession is a procession in which the bride washes her husband's feet as a symbol of respect and devotion in living a household life. Although it has strong cultural values, this procession raises debate regarding its suitability with the principle of equality and the possibility of elements that contradict Islamic teachings. This study aims to analyze the practice of wijikan from an Islamic legal perspective, and to see whether the procession is in line with or contradicts the principles of Islamic law. The research method used in this study is a qualitative approach with descriptive and normative analysis. Data were collected through observation, interviews with religious leaders, traditional leaders, and literature reviews. The results of the study indicate that the wijikan procession is interpreted as a symbolic form, not a degrading of 3 women's dignity, and is not accompanied by ritual elements that deviate from the sharia in an Islamic legal perspective, as long as there are no elements of shirk, this procession can be accepted as a permissible custom. So the wijikan procession is classified as 'urf shahih which reflects the values of respect and readiness in building a household. Therefore, adjustments to the wijikan procession need to be made to avoid conflicting elements and equality in Islam, while still maintaining cultural values that do not harm any party. Keywords: Islamic Law, Javanese Traditional Wedding, Wijikan Procession

Item Type: Article
Subjects: Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga)
Divisions: Fakultas Syariah > Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga)
Depositing User: LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI
Date Deposited: 09 Sep 2025 07:29
Last Modified: 09 Sep 2025 07:29
URI: https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/40070

Actions (login required)

View Item View Item