Rizki, Ananda (2025) TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP TRADISI MEWAGHI PERKAWINAN ADAT LAMPUNG PEPADUN (Studi Masyarakat Lampung Pepadun Di Desa Astra Ksetra Kecamatan Menggala Kabupaten Tulang Bawang). Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.
|
PDF
Download (4MB) |
|
|
PDF
Restricted to Repository staff only Download (4MB) |
Abstract
ABSTRAK Tradisi Mewaghi merupakan pernikahan antarsuku secara adat harus diselesaikan dengan cara mewaghi. Masuk pepadun, jika orang dari luar suku Lampung akan masuk Lampung Pepadun harus menyelesaikan kewajibannya terlebih dahulu seperti : jika akan masuk sesama pepadun suku meski bayar Rp. 5.000.000 serta dibindiken di tengah sesat dihadapkan orang banyak Desa Astra Ksetra Kecamatan Menggala Kabupaten Tulang Bawang. Berdasarkan uraian tersebut penulis menyimpulkan rumusan masalah pada penelitian ini adalah 1) Bagaimana praktik tradisi mewaghi pada proses pengangkatan anak kandung dalam perkawinan adat Lampung pada masyarakat adat Lampung Pepadun di Desa astra Ksetra Kecamatan Menggala Kabupaten Tulang Bawang? , 2). Bagaimana Pandangan Hukum Islam terhadap proses pelaksanaan tradisi mewaghi pada masyarakat Lampung Pepadun di Desa Astra Ksetra Kecamatan Menggala Kabupaten Tulang Bawang? Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), yang bersifat deskriptif kualitatif. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data melalui wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat yang melaksanakan tradisi mewaghi. Analisa penulis bersandar pada teori „urf. Hasil penelitian ini menyimpulkan Tradisi Mewaghi dilaksanakan sebelum pelaksanaan perkawinan. Apabila orang luar suku lampung pepadun ingin menikahi gadis asal Lampung Pepadun maka dilaksanakan tatacara pengangkatan (Angken) Mewaghi. Melalui musyawarah adat dan mengeluarkan uang untuk penurunan Dau (uang adat Raja) sebesar Rp. 5.000.000.00 lalu uang tersebut dibagi bagikan kepada tokoh adat. Yang berhak mengangkat anak yaitu orang asli Lampung Pepadun lalu diperkenalkan kepada seluruh masyarakat lampung Pepadun dan diberikan gelar penyimbang dan diberikan masukan peraturan peraturan yang harus ditaati jika melanggar peraturan yang telah ada maka akan dikenakan pelanggaran adat yang telah ditetapkan. Jika syarat sah perkawinan terpenuhi maka diizinkan untuk menikah dan memakai pakaian Adat Lampung Pepadun tersebut. Kemudian menurut pandangan hukum Islam tradisi mewaghi di Desa Astra Ksetra Kecamatan Menggala Kabupaten Tulang Bawang dilihat dari teori Al‟urf dalam segi objeknya tradisi mewaghi termasuk ke dalam „urf „amali, segi cakupannya tradisi mewaghi termasuk „urf lafzhi, dan ditinjau dari segi keabsahannya tradisi mewaghi termasuk ke dalam jenis „urf Sahih. Kata Kunci : Tradisi Mewaghi, Perkawinan, Hukum Islam. ABSTRACT The Mewaghi tradition is an inter-tribal marriage that must be completed by means of mewaghi. Entering pepadun, if people from outside the Lampung tribe will enter Lampung Pepadun, they must first complete their obligations such as: if they will enter the same pepadun tribe even though they pay Rp. 5,000,000 and be bound in the middle of the seset faced by many people in Astra Ksetra Village, Menggala District, Tulang Bawang Regency. Based on this description, the author concludes that the formulation of the problem in this study is 1) How is the practice of the mewaghi tradition in the process of adopting biological children in Lampung traditional marriages in the Lampung pepadun traditional community in Astra Ksetra village, Menggala sub district Tulang Bawang district?, 2). What is the view of Islamic Law on the process of implementing the mewaghi tradition in the Lampung Pepadun community in Astra Ksetra Village, Menggala District, Tulang Bawang Regency? This type of research is field research, which is descriptive qualitative. Data analysis in this study uses descriptive qualitative analysis. The method of data collection is through interviews with traditional figures, religious figures, and communities that carry out the mewaghi tradition. The author's analysis is based on the theory of 'urf. The results of this study concluded that the Mewaghi Tradition was carried out before the marriage. If a person outside the Lampung Pepadun tribe wants to marry a girl from Lampung Pepadun, then the Mewaghi adoption (Angken) procedure is carried out. Through customary deliberation and spending money to lower Dau (King's customary money) of Rp. 5,000,000.00, then the money is distributed to traditional leaders. Those who have the right to adopt a child are native Lampung Pepadun people and are then introduced to the entire Lampung Pepadun community and given the title of penyimbang and given input on the regulations that must be obeyed if they violate the existing regulations, they will be subject to a violation of the established customs. If the legal requirements for marriage are met, they are permitted to marry and wear the Lampung Pepadun Traditional clothes. Then according to the Islamic law perspective, the mewaghi tradition in Astra Ksetra Village, Menggala District, Tulang Bawang Regency, seen from the Al'urf theory in terms of its object, the mewaghi tradition is included in 'urf 'amali, in terms of its scope, the mewaghi tradition is included in 'urf lafzhi, and in terms of its validity, the mewaghi tradition is included in the type of 'urf Sahih. Keywords: Mewaghi Tradition, Marriage, Islamic Law.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga) |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga) |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 09 Sep 2025 07:00 |
| Last Modified: | 09 Sep 2025 07:00 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/40066 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


