TEGAR, BAYU CAHYO NUGROHO (2025) PERAN KOMUNITAS GERAKAN UNTUK KESEJAHTERAAN TUNARUNGGU INDONESIA (GERKATIN) DPC BANDAR LAMPUNG DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN INTERKASI SOSIAL KEAGAMAAN PENYANDANG TUNARUNGU. Diploma thesis, UIN Raden Intan Lampung.
|
PDF
Download (3MB) |
|
|
PDF
Restricted to Repository staff only Download (3MB) |
Abstract
ABSTRAK Komunitas Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) merupakan organisasi yang mewadahi dan memperjuangkan hak-hak penyandang tunarungu dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang sosial dan keagamaan. Melalui berbagai program dan kegiatan, Gerkatin berupaya menciptakan ruang yang inklusif bagi anggotanya untuk berinteraksi, mengembangkan diri. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu mengenai bagaimana bentuk interaksi sosial keagamaan penyandang tunarungu, serta bagaimana peran komunitas Gerkatin Lampung dalam meningkatkan interaksi sosial keagamaan penyandang tuna rungu. Jenis penelitian ini lapangan (field research) bersifat deskriptif. Sumber data yang digunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi dan wawancara. Dalam wawancara yang digunakan kepada informan menggunakan teknik purposive sampling, dan dokumentasi yang di dapatkan hasil dari wawancara kepada penyandang tunarungu dan masyarakat. Teori yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini adalah teori AGIL Talcott Parsons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bentuk interaksi sosial keagamaan yang dilakukan oleh penyandang tunarungu di Komunitas Gerkatin DPC Bandar Lampung mencakup kegiatan seperti Kajian Tuli, Sunyi Mengaji, Tanya Tuli, Pawai HBBI, Ngobrol Santai, Bakti Sosial, dan Pelatihan Skill. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya memperkuat keimanan, tetapi juga membangun solidaritas sosial dan meningkatkan kemandirian anggota. Jika dianalisis melalui teori Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead, interaksi tersebut mencerminkan adanya proses pembentukan makna melalui simbol simbol yang dipahami bersama, khususnya melalui bahasa isyarat sebagai media utama komunikasi. Simbol ini menjadi sarana penting bagi individu dalam membentuk identitas keagamaan mereka (self), mengembangkan kesadaran berpikir reflektif (mind), serta membangun relasi sosial yang bermakna dalam komunitas keagamaan (society). Dalam setiap interaksi, individu tidak hanya menyerap nilai keagamaan, tetapi juga secara aktif menafsirkannya dan menjadikannya bagian dari konstruksi identitas diri mereka sebagai muslim penyandang tunarungu yang berdaya dan setara di tengah masyarakat. Sedangkan, Peran Komunitas Gerkatin DPC Bandar Lampung sangat penting dalam memberdayakan penyandang tunarungu. Komunitas ini bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi menjadi agen perubahan melalui pelatihan keterampilan, pendidikan bahasa isyarat, pendampingan keagamaan, dan advokasi hak disabilitas. Dalam teori AGIL Talcott Parsons, Gerkatin menjalankan fungsi adaptasi (melalui pelatihan), pencapaian tujuan (peningkatan kualitas hidup), integrasi (forum inklusif), dan pelestarian nilai (pembinaan spiritual). Sementara itu, menurut teori interaksi simbolik John Dewey, bahasa isyarat dalam kegiatan mereka menjadi simbol sosial yang membangun makna bersama dan memperkuat kesadaran kolektif. Dengan demikian, Gerkatin membentuk ruang ibadah yang inklusif dan struktur sosial yang partisipatif serta transformatif bagi penyandang tunarungu. Kata Kunci : Interaksi Sosial Keagamaan, Penyandang Tuna Rungu, Geraktin. ABSTRACT The Gerkatin (Movement for the Welfare of the Deaf in Indonesia) community is an organization that advocates for and advocates for the rights of deaf people in various aspects of life, including social and religious matters. Through various programs and activities, Gerkatin strives to create an inclusive space for its members to interact, develop themselves, and strengthen their social and spiritual identities.The problem in this study is about how the form of social-religious interaction of deaf people in the Gerkatin Lampung community, and how the role of the Gerkatin Lampung community in improving the social-religious interaction of deaf people. This type of field research is descriptive. The data sources used are primary data sources and secondary data sources. Data collection is carried out by observation, documentation and interviews. In the interviews used to informants using purposive sampling techniques, and documentation obtained from interviews with people with disabilities and the community. The theory used to analyze this study is Talcott Parsons' AGIL theory. The results of the study indicate that the forms of social and religious interactions carried out by deaf people in the Gerkatin DPC Bandar Lampung Community include activities such as Deaf Studies, Silent Quran Reading, Ask the Deaf, HBBI Parades, Casual Chats, Community Service, and Skills Training. These activities not only strengthen faith, but also build social solidarity and increase the independence of members. When analyzed through George Herbert Mead's Symbolic Interactionism theory, these interactions reflect the process of constructing meaning through mutually understood symbols, especially through sign language as the main medium of communication. These symbols become an important means for individuals in forming their religious identity (self), developing reflective thinking awareness (mind), and building meaningful social relationships within the religious community (society). In each interaction, individuals not only absorb religious values, but also actively interpret them and make them part of the construction of their self-identity as deaf Muslims who are empowered and equal in society. Meanwhile, the role of the Gerkatin DPC Bandar Lampung Community is very important in empowering deaf people. This community is not just a gathering place, but also an agent of change through skills training, sign language education, religious mentoring, and disability rights advocacy. In Talcott Parsons' AGIL theory, Gerkatin serves the functions of adaptation (through training), goal achievement (improving quality of life), integration (inclusive forum), and value preservation (spiritual development). Meanwhile, according to John Dewey's symbolic interaction theory, sign language in their activities becomes a social symbol that builds shared meaning and strengthens collective consciousness. Thus, Gerkatin creates an inclusive worship space and a participatory and transformative social structure for the deaf. Keywords: Religious Social Interaction, Deaf People, Geraktin.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Sosiologi Agama |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Sosiologi Agama |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 04 Aug 2025 03:24 |
| Last Modified: | 04 Aug 2025 03:24 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/39446 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


