ANALISIS MISKONSEPSI GURU KURIKULUM MERDEKA PADA MATA PELAJARAN FIQIH DI MAN 1 PESISIR BARAT

Asmara, Hayati (2024) ANALISIS MISKONSEPSI GURU KURIKULUM MERDEKA PADA MATA PELAJARAN FIQIH DI MAN 1 PESISIR BARAT. Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.

[thumbnail of BAB 1 2 DAPUS.pdf] PDF
Download (4MB)
[thumbnail of SKRIPSI ASMARA HAYATI.pdf] PDF
Restricted to Repository staff only

Download (4MB)

Abstract

ABSTRAK Miskonsepsi adalah ide atau pandangan yang keliru mengenai suatu konsep yang disepakati dan dianggap benar oleh para ahli, biasanya pandangan yang berbeda (salah) bersifat resisten (sulit diubah) dan persisten (cenderung bertahan) pandangan ini sulit diubah. Sehingga miskonsepsi yang terjadi pada kurikulum merdeka yang sudah diterapkan oleh lembaga pendidikan itu berdampak pada lembaga pendidikan tersebut dan juga segenap orang yang terlibat didalamnya mulai dari kepala sekolah, staff TU dan yang terpenting guru dan siswa.karna realitanya teradi miskonsepsi atau salah pemahaman tidak hanya dikalangan awam seperti orangtua siswa bahkan pada guru. Tetapi melihat kurikulum yang terbilang baru diterapkan maka guru akan melakukan penyesuaian kembali setelah sebelumnya mereka cukup nyaman dengan kurikulum yang diterapkan. Maka dari itu guru akan mengalami miskonsepsi dari semua yang diubah dari kurikulum sebelumnya. MAN 1 Pesisir Barat merupakan salah satu satuan pendidikan yang sudah menerapkan kurikulum merdeka walaupun belum secara keseluruhan dimulai dari tahun 2022 dari kelas X,XI dan kelas XII masih menggunakan kurikulum 13. MAN 1 Pesisir Barat juga sudah mengembangkan pendidikam karakter melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila ( P5 ).Diharapkan pembelajaran berbasis projek dapat mengajarkan siswa sehingga menjadi berkarakter. Namun dalam pembelajaran guru disini masih mengalami miskonsepsi seperti menganggap kurikulum merdeka ini merupakan sebuah pengganti kurikulum sebelumnya,dan juga mengganggap kurikulum merdeka hanya bisa dimplementasikan di sekolah dengan fasilitas yang lengkap. Serta pemenuhan administrasi yang rumit yang perlu diperhatikan kembali oleh pemerintah. Jenis penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif lapangan (field research). Metode penelitian ini digunakan untuk mengetahui dan mendeskripsikan implementasi nilai-nilai moderasi beragama dalam pembelajaran akidah akhlak pada peserta didik di MAN 1 Pesisir Barat. Sumber data yang digunakan dibagi menjadi dua kelompok yaitu data utama (primer) dan data tambahan (sekunder). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data dalam penelitian ini ialah reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Untuk uji keabsahan data, peneliti menggunakan triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu. iv Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis miskonsepsi guru kurikulum merdeka pada mata pelajaran fiqih di MAN 1 pesisir barat ditemukan tentang penerapan Kurikulum merdeka di MAN 1 Pesisir Barat ini sudah diterapkan sejak tahun 2022 di MAN 1 Pesisir Barat, yang dalam penerapannya dimulai dari kelas X,XI, namun untuk kelas XII masih menggunakan kurikulum sebelumnya yakni kurikulum 13. Sarana dan prasana di MAN 1 Pesisir Barat yang memadai namun kurang maksimal. MAN 1 Pesisir Barat juga sudah melaksanakan Gelar Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema kewirausahaan. Terdapat hambatan dalam penerapan kurikulum merdeka di MAN 1 Pesisir Barat seperti apabila siswa yang kurang aktif atau pasif khususnya pada saat pembelajaran fiqih itu membuat pembelajaran fiqih jadi kurang maksimal. Dalam penerapan pun terjadi miskonsesi guru kurikulum merdeka pada mata pelajaran fiqih, Setelah peneliti melakukan observasi peneliti menemukan kegiatan mata pelajaran fiqih di kelas yang monoton, terlihat guru yang masih memakai metode ceramah saat pembelajaran dari awal sampai akhir. Karena kurangnya pemahaman guru terhadap konsep kurikulum merdeka itu sendiri. Ditambah dengan sarana dan prasarana yang kurang maksimal, lalu miskonsepsi selanjutnya penerapan kurikulum merdeka harusnya diterapkan dengan sekolah yang mempunyai fasilitas lengkap, selain dari pada itu Pemenuhan administrasi yang kurang difasilitasi oleh pemerintah dan terlalu rumit ini termasuk miskonsepsi terakhir yang terjadi di lingkungan madrasah. administrasi ini perlu diperhatikan kembali oleh pemerintah sebab perangkat administrasi guru memiliki peran penting dalam mendukung proses pembelajaran yang terstruktur dan efektif. Sayangnya, tidak semua guru termasuk guru fiqih memahami dengan baik tentang dokumen administrasi yang dibutuhkan. Kata Kunci: Miskonsepsi Guru, Kurikulum Merdeka, Fiqih v ABSTRACT Misconceptions are wrong ideas or views regarding a concept that is agreed upon and considered correct by experts, usually different (wrong) views are resistant (difficult to change) and persistent (tend to persist). These views are difficult to change. So that the misconceptions that occur in the independent curriculum that has been implemented by educational institutions have an impact on the educational institution and also all the people involved in it starting from the school principal, TU staff and most importantly teachers and students. Because in reality there are misconceptions or misunderstandings not only among lay people such as parents of students and even teachers. However, seeing that the curriculum is relatively new, teachers will make adjustments once they are previously quite comfortable with the curriculum being implemented. Therefore, teachers will experience misconceptions about everything that has been changed from the previous curriculum. MAN 1 Pesisir Barat is one of the educational units that has implemented the independent curriculum, although not yet in its entirety starting in 2022, from class X, XI and class (P5). It is hoped that project-based learning can teach students to become characterful. However, in learning, teachers here still experience misconceptions, such as considering that the independent curriculum is a replacement for the previous curriculum, and also assuming that the independent curriculum can only be implemented in schools with complete facilities. As well as fulfilling complex administration that needs to be looked at again by the government. The type of research used by researchers in this research is descriptive qualitative field research. This research method was used to determine and describe the implementation of religious moderation values in learning moral beliefs among students at MAN 1 Bandar Lampung. The data sources used are divided into two groups, namely main (primary) data and additional (secondary) data. The data collection techniques used were observation, interviews and documentation. The data analysis techniques in this research are data reduction, data presentation, drawing conclusions and verification. To test the validity of the data, researchers used source triangulation, technique triangulation, and time triangulation. The results of the research show that an analysis of the misconceptions of independent curriculum teachers in fiqh subjects at MAN 1 West Coast found that the implementation of the independent curriculum at MAN 1 Pesisir Barat has been implemented since 2022 vi at MAN 1 Pesisir Barat, where the implementation starts from class X, However, class XII still uses the previous curriculum, namely curriculum 13. The facilities and infrastructure at MAN 1 Pesisir Barat are adequate but not optimal. MAN 1 Pesisir Barat has also carried out a Work Title for the Strengthening Pancasila Student Profile (P5) Project with the theme of entrepreneurship. There are obstacles in implementing the independent curriculum at MAN 1 Pesisir Barat, such as if students are less active or passive, especially when learning fiqh, which makes learning fiqh less than optimal. In the implementation, there was a misunderstanding by the independent curriculum teacher in the subject of fiqh. After the researcher conducted observations, the researcher found that the activities in the fiqh subject in class were monotonous, it was seen that the teacher was still using the lecture method during learning from start to finish. Due to the teacher's lack of understanding of the concept of the independent curriculum itself. Coupled with less than optimal facilities and infrastructure, the next misconception is that the implementation of an independent curriculum should be implemented in schools that have complete facilities, apart from that, administrative fulfillment which is not facilitated by the government and is too complicated is one of the latest misconceptions that occurs in the madrasa environment. The government needs to pay more attention to this administration because teacher administration tools have an important role in supporting a structured and effective learning process. Unfortunately, not all teachers, including fiqh teachers, understand the required administrative documents well. Keywords: Teacher Misconceptions, Independent Curriculum, Fiqh

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: Pendidikan Agama islam
Divisions: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan > Pendidikan Agama islam
Depositing User: LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI
Date Deposited: 16 Oct 2024 07:05
Last Modified: 16 Oct 2024 07:05
URI: https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/35894

Actions (login required)

View Item View Item