PENGARUH KESULTANAN PALEMBANG TERHADAP PERDAGANGAN REMPAH DAN ISLAMISASI DI TULANG BAWANG ABAD 17

NUGRAHA, YOGA TAMA (2026) PENGARUH KESULTANAN PALEMBANG TERHADAP PERDAGANGAN REMPAH DAN ISLAMISASI DI TULANG BAWANG ABAD 17. Diploma thesis, UIN Raden Intan Lampung.

[thumbnail of COVER-BAB1-BAB2-DAPUS-LAMPIRAN- NUGRAHA YOGA TAMA, NPM. 2061020026.pdf] PDF
Download (5MB)
[thumbnail of FULL SKRIPSI, NUGRAHA YOGA TAMA, NPM. 2061020026.pdf] PDF
Restricted to Repository staff only

Download (5MB)

Abstract

ABSTRAK Hubungan yang terjalin sejak lama antara kerajaan Tulang Bawang dengan Kesultanan Palembang dalam kurun waktu yang cukup lama, dalam peroses perdangan rempah-rempah yang mana di hasilkan di tanah Tulang Bawang serta Kesultanan Palembang sebagai pusat perdangan dunia pada abat itu serta kulturasi budaya dan agama yang terjalin antara dua wilayah ini di manan Palembang menjadi pengaruh penting bagi perkebangan agama islam di Tulang Bawang. Perdangan berperan penting dalam setiap perubahan zaman, pelabuhan adalah tempat yang cocok dalam proses perdangan pada masa itu, Kesultanan Palembang memiliki pelabuhan yang besar serta terkenal hingga ke seluruh dunia abad 15. Kedatangan VOC ke tanah Sumatra merubah banyak keadaan baik dari kesultanan Palembang dan juga Tulang Bawang yang menjadi incaran perdangan rempah-rempah VOC pada abad 17. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi pencarian sumber melalui dokumen se-zaman, serta sumber peningalan berupa barang serta artefak yang sudah relefan suberya, baik catatan dari Belanda maupun yang berasal dari Indonesia dan berbagai sumber sekunder lainya sebagai pembanding. Serta sebagai pendukung sumber yang sudah ada lau di perkuat dengan adanya teori, pada tahapan selanjutnya melalui Verifikasi sumber, penulis melakukan dengan cara menyamakan dan menyimpulkan antara sumber satu dengan sumber lainya, kemudian pada tahap terahir, penulisan sejarah dilakukan dengan penyajian eksplanasi sebab dan akibat. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwasanya Tulang Bawang dan Kesultanan Palembang adalah dua wilayah yang dipersatukan dalam sebuah hubungan perdagangan, dan juga wilayah pengaruh Kesultanan Palembang terhadap Tulang Bawang sebagai pengaruh budaya dan islamisasi. Perdangan rempah yang menjadi pelantara antara kedua wilayah ini, saling menguntungkan satu sama lain, rempah menjadi sebuah acuan penting untuk komoditas perdagangan di wilayah Kesultanan Palembang rempah yang diperjual belikan seperti lada hitam, merica putih, kapulaga, kapur barus, dan juga cengkeh. Rempah-rempah tersebut banyak tumbuhan dan dibudidayakan didaerah Tulang Bawang, Lampung. Rempah adalah sebuah komoditas ekspor dimasa itu bahkan hingga setingkat setara dengan emas. Lada hitam salah satunya banyak di budidayakan di lampung termasuk di Tulang Bawang, jenis rempah ini juga di juluki sebagai Emas hitam dari Lampung, karena permintaan pasar Eropa dan Asia timur harga jual lada hitam melonjak tinggi, pada tahun 1509 mulai berdatangan bangsa asing ke tanah nusantara yang singgah di pelabuhan Malaka kemudia mulai ekspansi ke wilayah Nusantara. Kata Kunci : Hubungan, Tulang Bawang, Palembang, Perdagangan, Islamisasi. ABSTRACT The long-standing relationship between the Tulang Bawang kingdom and the Palembang Sultanate over a considerable period of time, in the process of trading spices produced in Tulang Bawang and the Palembang Sultanate as the center of world trade at that time, as well as the cultural and religious ties between these two regions, where Palembang had an important influence on the development of Islam in Tulang Bawang. Trade played a vital role in every era of change. Ports were ideal locations for trade at that time, as well as intermediaries for the exchange of culture and knowledge. The Sultanate of Palembang had a large port that was famous throughout the world in the 15th century. The arrival of the VOC in Sumatra changed many things for both the Sultanate of Palembang and Tulang Bawang, which became the target of the VOC's spice trade in the 17th century. This study uses historical research methods, which include searching for sources through contemporary documents, as well as relevant relics and artifacts, both Dutch and Indonesian records, and various other secondary sources for comparison. To support the existing sources, the author reinforced them with theory. In the next stage, through source verification, the author compared and concluded between one source and another. Then, in the final stage, the history was written with an explanation of the causes and effects. The results of this research found that Tulang Bawang and the Sultanate of Palembang were two regions united by trade relations, and that the Sultanate of Palembang also influenced Tulang Bawang in terms of culture and Islamization. The spice trade that served as an intermediary between these two regions was mutually beneficial. Spices became an important commodity for trade in the Palembang Sultanate, with black pepper, white pepper, cardamom, camphor, and cloves being traded. These spices were widely grown and cultivated in the Tulang Bawang region of Lampung. Spices were an export commodity at that time, even reaching a level equivalent to gold. Black pepper, one of the most widely cultivated spices in Lampung, including in Tulang Bawang, was also known as the black gold of Lampung. Due to high demand in European and East Asian markets, the price of black pepper skyrocketed. In 1509, foreigners began arriving in the archipelago, stopping at the port of Malacca before expanding into the wider region. Their initial purpose was to trade and purchase spices, but their greed eventually led to a desire to control the spices of the archipelago.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: Sejarah Peradaban Islam
Divisions: Fakultas Adab > Sejarah Peradaban Islam
Depositing User: LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI
Date Deposited: 19 Aug 2026 08:20
Last Modified: 19 Aug 2026 08:20
URI: https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/46182

Actions (login required)

View Item View Item