Imas, Binti Jainul (2026) PARADIGMA BERPIKIR SANTRI TERHADAP OTORITAS KEAGAMAAN DI ERA DIGITAL: STUDI PADA SANTRI MA’HAD AL-JAMI’AH UIN RADEN INTAN LAMPUNG. Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.
|
PDF
Download (4MB) |
|
|
PDF
Restricted to Repository staff only Download (4MB) |
Abstract
ABSTRAK Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang signifikan terhadap cara santri ma‟had al-Jami‟ah UIN Raden Intan Lampung, memperoleh dan memahami informasi keagamaan, Kehadiran media sosial, platform berbagi video, dan berbagai media dakwah digital menjadi sumber pengetahuan agama dalam memahami otoritas keagamaan, yaitu bergesernya pola akses dari otoritas keagamaan tradisional yang berlandaskan sanad keilmuan menuju otoritas digital yang lebih terbuka, mudah diakses, dan sering kali dipengaruhi oleh popularitas, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis paradigma berpikir santri terhadap otoritas keagamaan di era digital serta mengidentifikasi kriteria yang digunakan santri dalam menetapkan dan menilai otoritas keagamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap mahasantri serta pengurus Ma‟had al-Jami‟ah UIN Raden Intan Lampung yang berjumlah 8 yang dipilih secara purposif. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan menggunakan teori paradigma Thomas S. Kuhn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paradigma berpikir santri masih didominasi paradigma normatif-tradisional yang menempatkan ustadz, kiai, dan lembaga pesantren sebagai rujukan utama. Perkembangan media digital menghadirkan anomali yang mendorong santri memanfaatkan sumber keagamaan digital sebagai referensi tambahan tanpa menggeser otoritas tradisional. Santri tetap memverifikasi informasi kepada ustadz, kiai, kitab-kitab otoritatif, serta Al-Qur‟an dan Hadis. Kriteria penilaian otoritas keagamaan meliputi kedalaman keilmuan, kejelasan sanad, latar belakang pendidikan, kesesuaian dengan Al-Qur‟an dan Hadis, serta akhlak dan keteladanan. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan otoritas keagamaan di era digital bersifat adaptif melalui integrasi tradisi pesantren dengan pemanfaatan media digital secara kritis. Kata Kunci: Paradigma Berpikir, Santri, Otoritas Keagamaan, Era Digital, Thomas S. Kuhn. ABSTRACT The rapid development of digital technology has significantly transformed the way the students of Ma'had al-Jami'ah, UIN Raden Intan Lampung, obtain and understand religious information. The emergence of social media, video-sharing platforms, and various digital da'wah media has become an important source of religious knowledge, leading to a shift in the understanding of religious authority from traditional authorities based on scholarly transmission (sanad) to digital authorities that are more open, accessible, and often influenced by popularity. This study aims to analyze the thinking paradigm of santri toward religious authority in the digital era and to identify the criteria they use in determining and evaluating religious authority. This study employed a descriptive qualitative approach using field research methods. Data were collected through interviews, observations, and documentation involving eight participants, consisting of students and administrators of Ma'had al-Jami'ah, UIN Raden Intan Lampung, who were selected through purposive sampling. The data were analyzed through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing using Thomas S. Kuhn's paradigm theory as the analytical framework. The findings reveal that the santri's thinking paradigm remains predominantly normative and traditional, positioning ustadz, kyai, and Islamic boarding school institutions as the primary references for understanding Islamic teachings. However, the development of digital media has introduced anomalies that encourage santri to use digital religious sources as complementary references without replacing traditional religious authority. The santri continue to verify religious information with ustadz, kyai, authoritative Islamic texts, as well as the Qur'an and Hadith. The criteria used to evaluate religious authority include scholarly competence, the authenticity of sanad, educational background, conformity with the Qur'an and Hadith, and moral integrity and exemplary character. These findings indicate that the transformation of religious authority in the digital era is adaptive, as santri are able to integrate the traditions of Islamic boarding schools with the critical use of digital media. Keywords: Thinking Paradigm, Santri, Religious Authority, Digital Era, Thomas S. Kuhn.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Aqidah Filsafat Aqidah Filsafat |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Aqidah Filsafat |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 13 Aug 2026 04:37 |
| Last Modified: | 13 Aug 2026 04:37 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/46019 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


