PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI MELALUI PENGELOLAAN PARIWISATA TEMIANGAN HILL DI DESA TRIMULYO KECAMATAN GEDUNG SURIAN KABUPATEN LAMPUNG BARAT

TIA, LASMAWATI (2026) PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI MELALUI PENGELOLAAN PARIWISATA TEMIANGAN HILL DI DESA TRIMULYO KECAMATAN GEDUNG SURIAN KABUPATEN LAMPUNG BARAT. Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.

[thumbnail of SKRIPSI TIA BAB 1 2 DAPUS.pdf] PDF
Download (3MB)
[thumbnail of SKRIPSI TIA.pdf] PDF
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)

Abstract

ABSTRAK Pariwisata Temiangan Hill di Desa Trimulyo, Kecamatan Gedung Surian, Kabupaten Lampung Barat, merupakan destinasi wisata alam berbasis masyarakat (Community-Based Tourism/CBT) yang sejak berdiri pada tahun 2018 telah melibatkan warga setempat dalam pengelolaannya. Namun, destinasi ini mengalami penurunan kunjungan yang signifikan, dari 10.163 pengunjung pada 2020 menjadi hanya 4.097 pengunjung pada 2025, akibat degradasi akses jalan dan munculnya destinasi kompetitor. Kondisi ini memunculkan kesenjangan antara konsep partisipasi masyarakat dalam teori CBT dengan realitas pengelolaan di lapangan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk partisipasi masyarakat dalam pengembangan ekonomi melalui pengelolaan Wisata Temiangan Hill. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research), melalui wawancara terstruktur, observasi nonpartisipan, dan dokumentasi terhadap lima informan yang dipilih secara purposive, terdiri atas dua pengelola wisata dan tiga warga sekitar kawasan wisata. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang mengacu pada model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat terwujud dalam dua kategori utama, yaitu partisipasi langsung dalam sepuluh bentuk (antara lain keterlibatan dalam pembangunan awal kawasan, gotong royong dan pemeliharaan fasilitas, keterlibatan sebagai tenaga kerja, pengembangan usaha ekonomi berbasis wisata, serta promosi melalui media sosial), dan partisipasi tidak langsung dalam delapan bentuk (antara lain pemberian saran dan masukan, keterlibatan dalam musyawarah, serta peran tokoh masyarakat sebagai penghubung komunikasi). Dianalisis menggunakan kerangka CBT dari Tosun, Arnstein, serta Cohen dan Uphoff, ditemukan bahwa partisipasi masyarakat sangat kuat pada dimensi pelaksanaan dan pengambilan manfaat,iv namun masih tergolong sedang pada dimensi pengambilan keputusan dan lemah pada dimensi evaluasi, karena belum didukung kelembagaan formal seperti Pokdarwis atau BUMDes. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan Wisata Temiangan Hill telah mencerminkan sebagian besar prinsip CBT secara substantif, namun masih memerlukan penguatan kelembagaan, pengembangan kapasitas masyarakat yang terencana, serta mekanisme evaluasi partisipatif agar keberlanjutannya lebih terjamin di masa mendatang. ABSTRACT Temiangan Hill tourism in Trimulyo Village, Gedung Surian District, West Lampung Regency, is a community-based tourism (CBT) destination that has involved local residents in its management since its inception in 2018. However, the destination has experienced a significant decline in visitor numbers— dropping from 10,163 in 2020 to just 4,097 in 2025—due to the deterioration of access roads and the emergence of competing destinations. This situation highlights a gap between the concept of community participation in CBT theory and the reality of management on the ground. This study aims to describe the forms of community participation in economic development through the management of Temiangan Hill tourism. It employs a qualitative field research approach, utilizing structured interviews, nonparticipant observation, and documentation involving five informants selected via purposive sampling: two tourism managers and three local residents living near the site. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing, based on the Miles and Huberman model. The results indicate that community participation manifests in two main categories: direct participation in ten forms (including involvement in initial site development, gotong royong [mutual cooperation] and facility maintenance, employment, development of tourism-based economic enterprises, and social media promotion) and indirect participation in eight forms (including providing suggestions and input, involvement in deliberations, and the role of community leaders as communication liaisons). When analyzed using the CBT frameworks of Tosun, Arnstein, and Cohen & Uphoff, community participation was found to be very strong in the implementation and benefit-sharing dimensions, yet moderate in the decisionvi making dimension and weak in the evaluation dimension, largely due to the absence of formal institutional support such as a Tourism Awareness Group (Pokdarwis) or a Village-Owned Enterprise (BUMDes). This study concludes that the development of Temiangan Hill tourism has substantively reflected most Community-Based Tourism (CBT) principles; however, it still requires institutional strengthening, planned community capacity building, and participatory evaluation mechanisms to better ensure its future sustainability.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: Pengembangan Masyarakat Islam
Divisions: Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi > Pengembangan Masyarakat Islam
Depositing User: LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI
Date Deposited: 13 Aug 2026 03:21
Last Modified: 13 Aug 2026 03:21
URI: https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/46000

Actions (login required)

View Item View Item