BUSINJANG PADA MAKNA KOMUNIKASI SIMBOLIK UNTUK MENJAGA IDENTITAS DAN TATA KRAMA SOSIAL DI PEKON PELITA JAYA PESISIR BARAT

Meti, Dianti (2026) BUSINJANG PADA MAKNA KOMUNIKASI SIMBOLIK UNTUK MENJAGA IDENTITAS DAN TATA KRAMA SOSIAL DI PEKON PELITA JAYA PESISIR BARAT. Diploma thesis, UIN Raden Intan Lampung.

[thumbnail of SKRIPSI (COVER - BAB I - II - DAPUS & LAMPIRAN).pdf] PDF
Download (3MB)
[thumbnail of SKRIPSI FULL.pdf] PDF
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)

Abstract

ABSTRAK Tradisi Businjang merupakan salah satu warisan budaya takbenda yang memegang peranan vital dalam kehidupan sosial masyarakat Pesisir Barat, khususnya di Pekon Pelita Jaya. Keberadaan tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai tata busana penutup tubuh, melainkan sebagai sistem komunikasi simbolik yang sarat makna dalam menjaga identitas kultural dan keharmonisan sosial. Kain sinjang beserta motifnya menjadi media nonverbal yang menghubungkan nilai-nilai leluhur dengan perilaku masyarakat saat ini. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemaknaan tradisi Businjang sebagai komunikasi simbolik dalam menjaga identitas dan tata krama sosial pada masyarakat Pekon Pelita Jaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan sifat deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi data primer dan sekunder. Sumber data primer ditentukan menggunakan teknik purposive sampling dengan informan sebanyak 7 orang, yang terdiri dari tokoh adat, sesepuh kampung, tokoh agama, dan pelaku Tradisi Businjang. Sumber data sekunder dikumpulkan dari buku, jurnal, dan dokumentasi visual yang mendukung penelitian ini. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan dokumentasi. Teknik analisis data mengacu pada konsep Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Adapun landasan analisis utama dalam penelitian ini menggunakan teori Komunikasi Simbolik George Herbert Mead yang mencakup konsep Mind, Self, dan Society. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyimpulkan bahwa Businjang berfungsi sebagai simbol signifikan (significant symbol) yang memiliki makna bersama (shared meaning). Dalam aspek Mind, ragam motif seperti Pucuk Rebung dan Sulur Kuda Laut dimaknai sebagai bahasa visual non-verbal untuk menyampaikan pesan status, kesakralan, dan nilai-nilai alam. Dalam aspek Self, tradisi ini membentuk identitas diri melalui mekanisme cermin diri (looking-glass self) yang memunculkan rasa bangga dan rasa malu sebagai kontrol internal. Sementara dalam aspek Society, Businjang berperan sebagai mekanisme pengendalian tata krama sosial yang mendisiplinkan perilaku fisik menjadi lebih santun, meredam ego individu melalui keseragaman simbol, serta mengintegrasikan nilai-nilai spiritual Islam dalam menjaga adab dan kehormatan, sehingga berhasil mentransmisikan nilai moral antargenerasi demi menjaga kelestarian adat dan keteraturan sosial. Kata kunci: Businjang, Komunikasi Simbolik, Identitas Budaya . ABSTRACT The Businjang tradition is a form of intangible cultural heritage that plays a vital role in the social life of the Pesisir Barat community, particularly in Pekon Pelita Jaya. This tradition functions not merely as clothing to cover the body, but as a symbolic communication system rich in meaning for maintaining cultural identity and social harmony. The sinjang cloth and its motifs serve as a non-verbal medium connecting ancestral values with contemporary societal behavior. Accordingly, this research aims to examine the meaning of the Businjang tradition as symbolic communication in maintaining identity and social etiquette within the Pekon Pelita Jaya community. This research employs a qualitative approach with a descriptive nature. The data sources are divided into primary and secondary data. Primary data were obtained through purposive sampling involving seven informants, consisting of traditional leaders, village elders, religious figures, and practitioners of the Businjang tradition. Secondary data were collected from books, journals, and visual documentation relevant to the study. Data collection techniques included in-depth interviews, non-participant observation, and documentation. Data analysis followed the Miles and Huberman model, which encompasses data reduction, data display, and conclusion drawing. The primary theoretical framework used in this study is George Herbert Mead’s Symbolic Interactionism theory, which includes the concepts of Mind, Self, and Society. Based on the research findings, the author concludes that Businjang functions as a significant symbol possessing shared meaning. In terms of the Mind aspect, various motifs such as Pucuk Rebung and Sulur Kuda Laut are interpreted as visual nonverbal language used to convey messages regarding social status, sacredness, and natural values. In the Self aspect, this tradition shapes personal identity through the looking-glass self mechanism, which generates feelings of pride and shame as internal controls. Meanwhile, in the Society aspect, Businjang serves as a mechanism for regulating social etiquette by disciplining physical behavior to become more refined, curbing individual ego through symbolic uniformity, and integrating Islamic spiritual values in upholding manners and dignity. Consequently, it successfully transmits moral values across generations, thereby preserving customary practices and maintaining social order. Keywords: Businjang, Symbolic Communication, Cultural Identity.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: Komunikasi dan Penyiaran Islam
Divisions: Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi > Komunikasi dan Penyiaran Islam
Depositing User: LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI
Date Deposited: 27 Jul 2026 04:05
Last Modified: 27 Jul 2026 04:30
URI: https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/45349

Actions (login required)

View Item View Item