Cut, Tarina Novita Sari (2026) KRISIS RASIONALITAS POLITIK DI INDONESIA: STUDY ATAS GAGASAN SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS. Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.
|
PDF
Download (2MB) |
Abstract
ABSTRACT People’s political behaviour cannot be separated from the cognitive structures that shape an individual’s character and identity. In the context of modern democracy, many people tend to exhibit emotional and irrational political behaviour, resulting in a low standard of leadership selection and an inability to distinguish between fair and manipulative leadership. This study aims to analyse the phenomenon of the crisis of political rationality in political practice in Indonesia and to examine the relevance of the thought of Syed Muhammad Naquib al-Attas as a framework for analysis. This crisis is reflected in the rise of transactional politics, clientelism, patronage, and a tendency towards political behaviour that is more oriented towards short-term interests. This study employs a qualitative approach using a literature review method. The research findings indicate that the crisis of political rationality is not only related to institutional aspects but is also rooted in epistemological issues, namely the separation of knowledge (reason) from the values of adab and revelation. From al-Attas’s perspective, this situation is linked to the phenomenon of a loss of adab and a weakening understanding of dīn as the normative foundation of life, which has led to moral disorientation in political practice. Unlike previous studies, which have largely examined al-Attas’s thought in the context of education, this research explores its relevance to political analysis, whilst emphasising the importance of integrating reason, revelation, dīn and adab in building more ethical and public-interest-oriented political practices. Keywords: Political Rationality; Indonesian Politics; Clientelism; Epistemological Crisis; Al-Attas ABSTRAK Perilaku politik masyarakat tidak dapat dilepaskan dari struktur kognitif yang membentuk karakter dan identitas individu. Dalam konteks demokrasi modern, banyak masyarakat cenderung menunjukkan perilaku politik emosional dan tidak rasional, yang berakibat pada rendahnya kualitas pemilihan pemimpin dan ketidakmampuan membedakan antara kepemimpinan yang adil dan yang manipulatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena krisis rasionalitas politik dalam praktik politik di Indonesia serta mengkaji relevansi pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai kerangka analisis. Krisis tersebut tercermin dalam menguatnya praktik politik transaksional, klientelisme, patronase, serta kecenderungan perilaku politik yang lebih berorientasi pada kepentingan jangka pendek Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis rasionalitas politik tidak hanya berkaitan dengan aspek kelembagaan, tetapi juga berakar pada persoalan epistemologis, yaitu terpisahnya pengetahuan (akal) dari nilai adab dan wahyu. Dalam perspektif al-Attas, kondisi ini berkaitan dengan fenomena loss of adab serta melemahnya pemahaman terhadap dīn sebagai landasan normatif dalam kehidupan, yang berdampak pada disorientasi moral dalam praktik politik. Berbeda dengan kajian sebelumnya yang lebih banyak membahas pemikiran al-Attas dalam konteks pendidikan, penelitian ini mengkaji relevansinya dalam analisis politik, sekaligus menegaskan pentingnya integrasi akal, wahyu, dīn, dan adab dalam membangun praktik politik yang lebih etis dan berorientasi pada kepentingan publik. Kata Kunci: Rasionalitas Politik; Politik Indonesia; Klientelisme; Krisis Epistimologi; Al-Attas.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Pemikiran Politik Islam |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Pemikiran Politik Islam |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 08 Jul 2026 04:55 |
| Last Modified: | 08 Jul 2026 04:55 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/44748 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


