Eva, Mutdrika (2026) FANATISME BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Kajian Tafsir Al-Maraghi). Diploma thesis, UIN Raden Intan Lampung.
|
PDF
Download (1MB) |
|
|
PDF
Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
ABSTARAK Fanatisme beragama merupakan fenomena yang sering muncul dalam kehidupan masyarakat yang plural, termasuk di Indonesia. Fanatisme, yang dalam istilah Arab disebut ta’ashub atau dalam Al-Qur'an identik dengan ghuluw (melampaui batas), menjadi ancaman serius bagi keharmonisan sosial. Sikap fanatisme yang berlebihan dapat menimbulkan konflik, intoleransi, serta perpecahan antar umat beragama. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang tepat terhadap ajaran agama agar tidak menimbulkan sikap ekstrem dalam beragama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran Ahmad Mustafa Al-Maraghi terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan fanatisme beragama serta bagaimana kontekstualisasi penafsiran tersebut dalam kehidupan masa kini. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research) dan metode Maudhu'i dengan menghimpun ayat-ayat yang memiliki tema sejenis. Data primer bersumber dari Mushaf Al-Qur’an dan Kitab Tafsir Al-Maraghi, sedangkan data sekunder mencakup buku, jurnal, dan artikel yang relevan. Ayat-ayat Al-Qur'an yang relevan dijelaskan bersama dengan tafsir untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang fanatisme melalui tafsir al-maraghi serta didukung oleh berbagai literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Tafsir Al-Maraghi, fanatisme yang dilarang adalah sikap melampaui batas (ghuluw) yang meninggalkan syariat demi menuruti hawa nafsu, sebagaimana yang terjadi pada kaum terdahulu. Al-Maraghi menggunakan pendekatan rasional dan kontekstual untuk menghindari penafsiran kaku yang dapat memicu fanatisme ekstrem. Konteks kekinian menunjukkan bahwa fanatisme dapat berdampak positif jika dimaknai sebagai konsistensi dalam beribadah, namun menjadi negatif jika melahirkan eksklusivisme dan perpecahan. Sebagai solusi, Al-Qur'an menawarkan konsep jalan tengah (wasathiyah) yang mengedepankan keadilan, keseimbangan, dan toleransi untuk menciptakan keharmonisan sosial. Kontekstualisasi Tafsir Al-Maraghi di masa kini mengarahkan umat untuk membangun dialog dan keterbukaan guna meredam gerakan ekstremisme serta mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih stabil dan harmonis Kata Kunci: Fanatisme Beragama, Al-Qur’an, Tafsir Al-Maraghi, Toleransi. ABSTRACT Religious fanaticism is a phenomenon that frequently arises in pluralistic societies, including Indonesia. Fanaticism, referred to in Arabic as ta’ashub or in the Al-Qur'an as ghuluw (exceeding proper limits), poses a serious threat to social harmony. Excessive fanaticism can lead to conflict, intolerance, and division among religious communities. Therefore, a proper understanding of religious teachings is essential to prevent the emergence of extreme attitudes in religious practice. This study aims to examine Ahmad Mustafa Al-Maraghi’s interpretation of Qur’anic verses related to religious fanaticism and to explore how these interpretations can be contextualized in contemporary life. This study employs a qualitative methodology with a library research approach and applies the maudhu‘i (thematic) method by compiling Qur’anic verses with similar themes. Primary data are drawn from the Al-Qur'an and Tafsir Al-Maraghi, while secondary data consist of relevant books, journals, and articles. The selected Qur’anic verses are analyzed alongside their interpretations to provide a deeper understanding of fanaticism through Al-Maraghi’s exegesis, supported by various pertinent literature. The findings of this study indicate that, in Tafsir Al-Maraghi, the form of fanaticism that is prohibited is ghuluw (exceeding proper limits), which involves abandoning religious law in favor of personal desires, as had occurred among earlier communities. Al-Maraghi employs a rational and contextual approach to avoid rigid interpretations that may trigger extreme fanaticism. In the contemporary context, fanaticism may have a positive effect when understood as consistency in worship, but it becomes negative when it leads to exclusivism and division. As a solution, the Al-Qur'an presents the concept of the middle path (wasathiyah), which emphasizes justice, balance, and tolerance in order to create social harmony. The contextualization of Al-Maraghi’s interpretation in the present day encourages Muslims to promote dialogue and openness to reduce extremist movements and to establish a more stable and harmonious society. Keywords: Religious Fanaticism, Qur’an, Tafsir Al-Maraghi, Tolerance.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 01 Jul 2026 09:15 |
| Last Modified: | 01 Jul 2026 09:15 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/44613 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


