PERKAWINAN NGAKUK KHAGAH ADAT LAMPUNG SAIBATIN DALAM PERSPEKTIF HUKUM KELUARGA ISLAM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEHARMONISAN KELUARGA (Studi di Pekon Way Rilau Kecamatan Cukuh Balak Kabupaten Tanggamus)

HIBATIN, WAFIROH (2026) PERKAWINAN NGAKUK KHAGAH ADAT LAMPUNG SAIBATIN DALAM PERSPEKTIF HUKUM KELUARGA ISLAM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEHARMONISAN KELUARGA (Studi di Pekon Way Rilau Kecamatan Cukuh Balak Kabupaten Tanggamus). Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.

[thumbnail of ARTIKEL ILMIAH HIBATIN WAFIROH.pdf] PDF
Download (8MB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik perkawinan ngakuk khagah pada masyarakat adat Lampung Saibatin di Desa Way Rilau serta implikasinya terhadap keharmonisan keluarga dalam perspektif hukum keluarga Islam, ngakuk khagah merupakan bentuk perkawinan adat di mana pihak perempuan mengambil laki-laki untuk masuk ke dalam lingkungan keluarga perempuan dan menetap di pihak istri. Sistem ini menimbulkan dinamika tersendiri, terutama terkait posisi sosial suami, konsep kepemimpinan dalam rumah tangga (qiwāmah), serta relasi dengan keluarga besar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi lapangan (field research). Data diperoleh melalui wawancara dengan pasangan yang menjalani perkawinan ngakuk khagah, tokoh adat, dan tokoh masyarakat, serta didukung oleh observasi, dokumentasi, dan studi literatur. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menggunakan perspektif hukum keluarga Islam, teori „urf, dan pendekatan maqāṣid al-syarī„ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik ngakuk khagah tetap sah menurut hukum Islam selama memenuhi rukun dan syarat nikah. Pergeseran posisi sosial suami dalam struktur adat tidak menghilangkan kedudukannya sebagai kepala keluarga, melainkan mengarah pada bentuk kepemimpinan yang bersifat fungsional dan adaptif. Berdasarkan hasil wawancara, suami tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai pemimpin keluarga, meskipun secara adat berada dalam lingkungan keluarga istri. Implikasi terhadap keharmonisan keluarga bersifat kondisional, yang ditentukan oleh beberapa faktor utama, yaitu adanya kesepakatan pranikah, komunikasi yang terbuka, pembagian peran yang seimbang, serta adanya batas yang jelas terhadap intervensi keluarga besar. Dengan demikian, praktik ngakuk khagah dapat berjalan selaras dengan prinsip hukum keluarga Islam selama tetap menjunjung nilai keadilan, tanggung jawab, dan tujuan pembentukan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. ABSTRACT This study aims to analyze the practice of ngakuk khagah marriage among the Lampung Saibatin indigenous community in Way Rilau Village and its implications for family harmony from the perspective of Islamic family law. Ngakuk khagah is a form of customary marriage in which the woman takes the man into the woman's family and resides with the wife. This system creates its own dynamics, particularly regarding the husband's social position, the concept of household leadership (qiwāmah), and relations with the extended family. This study used a qualitative approach with field research methods. Data were obtained through interviews with couples undergoing ngakuk khagah marriages, traditional leaders, and community leaders, supported by observation, documentation, and literature review. The analysis was conducted descriptively and analytically using the perspective of Islamic family law, the theory of 'urf, and the maqāṣid al-syarī„ah approach. The results indicate that the practice of ngakuk khagah remains valid under Islamic law as long as it meets the pillars and requirements of marriage. The shift in the husband's social position within the customary structure does not eliminate his position as head of the family, but rather leads to a form of leadership that is functional and adaptive. Based on interviews, husbands continue to fulfill their responsibilities as family leaders, even though they traditionally reside within the wife's family. The implications for family harmony are conditional, determined by several key factors: a prenuptial agreement, open communication, a balanced division of roles, and clear boundaries regarding intervention by the extended family. Therefore, the practice of ngakuk khagah can align with the principles of Islamic family law as long as it upholds the values of justice, responsibility, and the goal of establishing a harmonious, peaceful, and compassionate family.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga)
Divisions: Fakultas Syariah > Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga)
Depositing User: LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI
Date Deposited: 30 Jun 2026 07:36
Last Modified: 30 Jun 2026 07:36
URI: https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/44551

Actions (login required)

View Item View Item