Ari, Yangga (2026) MAKNA INTERAKSI SIMBOLIK DALAM TRADISI MANJAU BALAK DI PERNIKAHAN MASYARAKAT ADAT LAMPUNG PEPADUN MARGA TEGAMOAN MEGOW PAK TULANG BAWANG (Studi Pada Tiyuh Penumangan Kabupaten Tulang Bawang Barat). Diploma thesis, UIN Raden Intan Lampung.
|
PDF
Download (10MB) |
|
|
PDF
Restricted to Repository staff only Download (11MB) |
Abstract
ABSTRAK Makna Interaksi Simbolik Dalam Tradisi Manjau Balak Di Pernikahan Masyarakat Adat Lampung Pepadun Marga Tegamoan Megow Pak Tulang Bawang (Studi Pada Tiyuh Penumangan Kabupaten Tulang Bawang Barat) Oleh : Ari Yangga Tradisi Manjau Balak dapat dilakukan pagi atau malam hari, namun biasanya lebih banyak dilakukan siang hari. Jumlah peserta dibatasi, maksimal sekitar sepuluh orang, terdiri dari paman, bibi, beberapa bujang gadis, dan keluarga lain. Bawaannya sederhana, bisa hanya minuman atau sampai jamuan makan. Tradisi ini dilakukan keluarga mempelai laki-laki bersama calon pengantin ke rumah orang tua mempelai perempuan untuk perkenalan antar keluarga. Tujuannya agar kedua keluarga terikat sebagai satu keluarga besar yang saling membantu dalam suka maupun duka. Jenis penelitian yang dipilih adalah penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data berbentuk wawancara dengan masyarakat atau dengan tokoh adat di Tiyuh Penumangan Kabupaten Tulang Bawang Barat. Subjek pada penelitian yaitu 7 masyarakat yang bernama Bapak Baheromsyah, Bapak Amirson Noveri, Bapak Marwan Arifin, Bapak Masri KR. Wahyudi, Bapak Mat Ali dan Bapak Muhammad Iqrom. Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Manjau Balak di Tiyuh Penumangan tetap dilestarikan melalui kolaborasi antara tokoh agama, tokoh adat, masyarakat, dan generasi muda. Tokoh agama berperan menjaga keselarasan tradisi dengan ajaran Islam, sekretaris adat mengoordinasikan dan mengawal jalannya prosesi, tokoh masyarakat memastikan nilai serta simbol adat tetap terjaga, sementara pemuda terlibat aktif sebagai proses pembelajaran untuk menjadi penerus tradisi. Meskipun pelaksanaannya mengalami penyesuaian seiring perkembangan zaman, esensi dan nilai luhur yang terkandung dalam tradisi tetap dipertahankan. Tradisi Manjau Balak memiliki makna sosial, budaya, dan religius, seperti mempererat silaturahmi, menanamkan nilai gotong royong, kebersamaan, serta penghormatan sosial yang selaras dengan prinsip-prinsip Islam. Upaya pelestarian dilakukan secara berkelanjutan melalui sinergi lintas elemen masyarakat dan keterlibatan generasi muda, sehingga meskipun bentuknya adaptif terhadap konteks modern, nilai dan esensi tradisi tetap terjaga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat. Kata Kunci : Interaksi Simbolik, Tradisi Manjau Balak, Pernikahan Masyarakat Adat Lampung Pepadun.ABSTRACT The Meaning of Symbolic Interaction in the Manjau Balak Tradition at Weddings in the Pepadun Traditional Community of Lampung, Tegamoan Megow Pak Tulang Bawang (A Study in the Penumangan Village, West Tulang Bawang Regency) By: Ari Yangga the Manjau Balak tradition can be performed in the morning or evening, but is usually more common during the day. The number of participants is limited to a maximum of ten people, consisting of uncles, aunts, several young women, and other family members. The offerings are simple, ranging from drinks to a meal. This tradition involves the groom's family and the bride-to-be visiting the bride's parents' home for an introduction. The goal is to bond the two families as one extended family, supporting each other through thick and thin. The chosen research method was qualitative. Data collection methods included interviews with the community and traditional leaders in the Penumangan Village, West Tulang Bawang Regency. The subjects of this study were seven community members: Mr. Baheromsyah, Mr. Amirson Noveri, Mr. Marwan Arifin, Mr. Masri KR Wahyudi, Mr. Mat Ali, and Mr. Muhammad Iqrom. This study used qualitative data analysis techniques. The research results show that the Manjau Balak tradition in Tiyuh Penumangan is still preserved through collaboration between religious leaders, traditional leaders, the community, and the younger generation. Religious leaders play a role in maintaining harmony between the tradition and Islamic teachings, the traditional secretary coordinates and oversees the procession, community leaders ensure that traditional values and symbols are maintained, while young people are actively involved in the learning process to become the successors of the tradition. Although its implementation has undergone adjustments over time, the essence and noble values contained in the tradition are maintained. The Manjau Balak tradition has social, cultural, and religious meanings, such as strengthening relationships, instilling the values of mutual cooperation, togetherness, and social respect that are in line with Islamic principles. Preservation efforts are carried out continuously through synergy across community elements and the involvement of the younger generation, so that even though its form is adaptive to the modern context, the values and essence of the tradition are maintained as part of the community's cultural identity. Keywords : Symbolic Interaction, Manjau Balak Tradition, Pepadun Lampung Traditional Weddings.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Sosiologi Agama |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Sosiologi Agama |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 20 May 2026 08:40 |
| Last Modified: | 20 May 2026 08:40 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/43971 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


