RAHMA, FARADILA (2026) SILENT TREATMENT SEBAGAI BENTUK KONFLIK DALAM RUMAH TANGGA PERSPEKTIF HUKUM KELUARGA ISLAM (Studi Di Desa Karang Endah, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah). Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.
|
PDF
Download (6MB) |
Abstract
Abstrak Silent treatment merupakan bentuk konflik rumah tangga yang sering dianggap wajar, namun berpotensi menimbulkan kekerasan psikis dan merusak keharmonisan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik silent treatment dalam rumah tangga serta kedudukannya dalam perspektif hukum keluarga Islam berdasarkan realitas sosial di Desa Karang Endah, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis empiris yang dipadukan dengan analisis yuridis normatif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap tiga pasangan suami istri dengan usia pernikahan berbeda, didukung observasi dan dokumentasi, serta dianalisis dengan merujuk pada literatur fikih, Al-Qur‘an, hadis, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang PKDRT, dan Kompilasi Hukum Islam. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa silent treatment merupakan pola komunikasi pasif-agresif yang berdampak pada kerenggangan emosional, kesalahpahaman, pengabaian kewajiban seperti nafkah batin, serta menurunnya kualitas relasi suami istri. Dalam perspektif hukum keluarga Islam, praktik ini dapat dikategorikan sebagai bentuk nusyuz atau syiqaq apabila dilakukan secara berulang dan berkepanjangan, bertentangan dengan prinsip sakinah, mawaddah, wa rahmah (QS. Ar-Rum [30]:21). Dampaknya mencakup penurunan kepercayaan dan stabilitas rumah tangga, dengan penyelesaian melalui tahap nasihat (mau’izah), pemisahan ranjang (hajr), dan mediasi hakam (QS. An-Nisa [4]:35). Penelitian ini menekankan pentingnya edukasi agama dan komunikasi ma‘ruf. Abstract Silent treatment is a form of domestic conflict often considered normal, yet it has the potential to cause psychological violence and undermine family harmony. This study aims to examine the practice of silent treatment in marital relationships and its legal position within Islamic family law, based on social realities in Karang Endah Village, Terbanggi Besar District, Central Lampung Regency. The research employs a qualitative method using an empirical juridical approach combined with normative juridical analysis. Data were obtained through in-depth interviews with three married couples with different lengths of marriage, supported by observation and documentation, and analyzed by referring to fiqh literature, the Qur’an, hadith, Law Number 23 of 2004 on the Elimination of Domestic Violence, and the Compilation of Islamic Law. Data analysis applied the Miles and Huberman model. The findings indicate that silent treatment represents a passive-aggressive communication pattern that leads to emotional distance, misunderstandings, neglect of marital obligations such as emotional intimacy, and a decline in the quality of husband– wife relationships. From the perspective of Islamic family law, this practice may be categorized as nusyuz or syiqaq when conducted repeatedly and continuously, as it contradicts the principles of sakinah, mawaddah, and rahmah (Qur’an, Ar-Rum [30]:21). Conflict resolution may be pursued through counsel, separation of beds, and mediation by hakam (Qur’an, An-Nisa [4]:35). This study emphasizes the importance of religious education and ma‘ruf communication in preventing similar conflicts.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga) |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga) |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 10 Mar 2026 03:56 |
| Last Modified: | 10 Mar 2026 03:56 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/43111 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


