IBNU, ZAKARIYA (2026) DAMPAK PETERNAKAN BABI TERHADAP HUBUNGAN SOSIAL DI LINGKUNGAN MASYARAKAT ISLAM DAN HINDU DESA BATU NANGKOP KECAMATAN SUNGKAI TENGAH KABUPATEN LAMPUNG UTARA. Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.
|
PDF
Download (3MB) |
|
|
PDF
Restricted to Repository staff only Download (3MB) |
Abstract
ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas sosial keberadaan peternakan babi di tengah masyarakat majemuk yang terdiri dari pemeluk agama Islam dan Hindu. Bagi masyarakat Hindu, peternakan babi dipandang sebagai sumber penghidupan yang bernilai ekonomi serta memiliki keterkaitan dengan aktivitas sosial budaya. Sebaliknya, bagi masyarakat Islam, keberadaan peternakan babi menimbulkan ketidaknyamanan lingkungan dan bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan, sehingga memunculkan keresahan sosial. Rumusan masalah penelitian ini mencakup dampak yang ditimbulkan oleh keberadaan peternakan babi serta dinamika hubungan sosial antara masyarakat Islam dan Hindu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak sosial, lingkungan, dan keagamaan yang muncul, serta menjelaskan hubungan sosial antarumat beragama di Desa Batu Nangkop. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Informan penelitian meliputi masyarakat Islam dan Hindu, peternak babi, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta aparat desa. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan metode. Secara teoretik, penelitian ini menggunakan Teori Konflik Lewis A. Coser dan Teori Konflik Ralf Dahrendorf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan peternakan babi menimbulkan dampak lingkungan berupa bau menyengat dan munculnya lalat yang memicu keresahan sosial di kalangan masyarakat Muslim, sementara bagi masyarakat Hindu peternakan babi memiliki nilai ekonomi dan kultural. Perbedaan kepentingan tersebut berimplikasi pada hubungan sosial berupa jarak sosial, penurunan intensitas interaksi, serta konflik yang bersifat laten. Konflik tersebut tidak berkembang menjadi konflik terbuka karena dikelola melalui mekanisme musyawarah, komunikasi informal, serta peran tokoh masyarakat dan aparat desa. Konflik laten yang terkelola berperan dalam menjaga stabilitas hubungan sosial antarumat beragama di tengah masyarakat majemuk. Kata Kunci: Peternakan Babi, Hubungan Sosial, Konflik Sosial, Masyarakat Majemuk, Lewis A. Coser, Ralf Dahrendorf ii ABSTRACT This study is motivated by the social reality of pig farming within a plural society consisting of Muslim and Hindu communities. For the Hindu community, pig farming is perceived as an important source of livelihood with economic value and socio-cultural significance. In contrast, for the Muslim community, the presence of pig farming causes environmental discomfort and contradicts religious values, leading to social unease. The research problems focus on the impacts of pig farming and the dynamics of social relations between Muslim and Hindu communities. This study aims to analyze the social, environmental, and religious impacts that arise, as well as to explain interreligious social relations in Batu Nangkop Village. This research employs a qualitative approach using a descriptive method. Data collection techniques include in-depth interviews, field observations, and documentation. Research informants consist of Muslim and Hindu residents, pig farmers, religious leaders, community leaders, and village officials. Data analysis is conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing, with data validity ensured through source and method triangulation. Theoretically, this study applies Lewis A. Coser’s Conflict Theory and Ralf Dahrendorf’s Conflict Theory. The findings indicate that pig farming generates environmental impacts in the form of unpleasant odors and the emergence of flies, which trigger social unease among the Muslim community, while for the Hindu community pig farming provides economic and cultural benefits. These differing interests affect social relations, resulting in social distance, reduced interaction, and latent conflict. However, such conflicts do not escalate into open conflict, as they are managed through deliberation, informal communication, and the role of community leaders and village authorities. Managed latent conflict thus functions to maintain social stability among interreligious communities within a plural society. Keywords: Pig Farming, Social Relations, Social Conflict, Plural Society, Lewis A. Coser, Ralf Dahrendorf.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Sosiologi Agama |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Sosiologi Agama |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 04 Mar 2026 07:06 |
| Last Modified: | 04 Mar 2026 07:06 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/43028 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


