NOVIANTI, PUTRI (2026) PANDANGAN HUKUM KELUARGA ISLAM TERHADAP SUAMI YANG TIDAK MEMBERIKAN NAFKAH BATIN KEPADA ISTRI (Studi Di Desa Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran). Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.
|
PDF
Download (6MB) |
|
|
PDF
Restricted to Repository staff only Download (6MB) |
Abstract
ABSTRAK Pernikahan dalam Islam merupakan ikatan suci yang tidak hanya bersifat lahiriah, tetapi juga batiniah. Suami memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah lahir dan batin kepada istrinya sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual. Namun, dalam kenyataan, masih banyak suami yang mengabaikan nafkah batin karena faktor pekerjaan, jarak, tekanan ekonomi, maupun kurangnya pemahaman agama. Fenomena ini menimbulkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga dan sering menjadi alasan utama terjadinya perceraian. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) apa penyebab suami tidak memberikan nafkah batin kepada istri di Desa Gedong Tataan?, (2) bagaimana pandangan Hukum Keluarga Islam terhadap suami yang tidak memberikan nafkah batin tersebut. Penelitian ini bertujuan mengkaji fenomena kurangnya nafkah batin dari suami kepada istri dalam Pandangan Hukum Keluarga Islam, dengan studi kasus di Desa Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi lapangan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, dengan sumber primer berupa pasangan suami istri di Desa Gedong Tataan yang mengalami permasalahan serupa. Berdasarkan hasil penelitian dalam skripsi ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa penyebab utama suami tidak memberikan nafkah batin antara lain adalah faktor pekerjaan di luar daerah, beban ekonomi, kurangnya komunikasi, serta rendahnya kesadaran terhadap kewajiban agama. Dalam pandangan Hukum Keluarga Islam, nafkah batin merupakan bagian dari hak istri yang wajib dipenuhi oleh suami. Ketidakterpenuhan nafkah batin dapat digolongkan sebagai bentuk kelalaian dan dosa, serta menjadi alasan sah bagi istri untuk menggugat cerai (khulu’). Nafkah batin memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan dan kestabilan rumah tangga. Pemenuhan aspek ini bukan hanya kewajiban biologis, tetapi juga wujud kasih sayang dan tanggung jawab spiritual suami kepada istri. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kesadaran dan pemahaman hukum Islam agar suami lebih bertanggung jawab dalam memenuhi hak-hak batin istrinya. ABSTRACT Marriage in Islam is a sacred bond that is not only physical but also spiritual. A husband has the obligation to provide both material and spiritual support to his wife as a form of moral and spiritual responsibility. However, in reality, many husbands neglect their spiritual duties due to factors such as work demands, distance, economic pressure, or lack of religious understanding. This phenomenon leads to disharmony within the household and often becomes a major cause of divorce. The problems examined in this study are: (1) what are the causes of husbands failing to provide spiritual support to their wives in Gedong Tataan Village? and (2) what is the perspective of Islamic Family Law regarding husbands who do not provide such support? This research aims to examine the phenomenon of the lack of spiritual support from husbands to their wives from the perspective of Islamic Family Law, using a case study in Gedong Tataan Village, Pesawaran Regency. The method used is qualitative with a field study approach. Data were collected through interviews, observations, and documentation, with primary sources consisting of married couples in Gedong Tataan Village who experienced similar issues. Based on the findings of this study, it can be concluded that the main causes of husbands failing to provide spiritual support include working outside the region, economic burdens, lack of communication, and low awareness of religious obligations. From the perspective of Islamic Family Law, spiritual support is part of the wife’s rights that must be fulfilled by the husband. The failure to provide such support can be categorized as negligence and sin, and may serve as legitimate grounds for a wife to file for divorce (khulu’). Spiritual support plays a crucial role in maintaining harmony and stability within the household. Fulfilling this aspect is not merely a biological obligation but also an expression of love and spiritual responsibility from the husband to the wife. Therefore, it is essential to increase awareness and understanding of Islamic law so that husbands become more responsible in fulfilling their wives’ spiritual rights.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga) |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga) |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 20 Jan 2026 03:12 |
| Last Modified: | 20 Jan 2026 03:12 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/42320 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


