TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP KEDUDUKAN KIYAY PADA ADAT LAMPUNG PEPADUN DALAM MENANGGUNG JAWABI SAUDARA PEREMPUAN (Studi Tiyuh Negeri Baru Kecamatan Blambangan Umpu Kabupaten Way Kanan)

ANISSYIFA, NUR AZIZAH (2025) TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP KEDUDUKAN KIYAY PADA ADAT LAMPUNG PEPADUN DALAM MENANGGUNG JAWABI SAUDARA PEREMPUAN (Studi Tiyuh Negeri Baru Kecamatan Blambangan Umpu Kabupaten Way Kanan). Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.

[thumbnail of PUSAT 1 2 ANISSYIFA.pdf] PDF
Download (5MB)
[thumbnail of SKRIPSI CETAK ANISSYIFA.pdf] PDF
Restricted to Repository staff only

Download (7MB)

Abstract

ABSTRAK Peran laki-laki dalam hukum Islam maupun hukum adat pada Lampung Pepadun sangatlah penting dan bahkan lebih mendominasi. Dalam Lampung Pepadun, peran anak laki-laki tertua sangat lah penting. Dalam hal waris, anak laki-laki tertua dipercaya untuk menguasai harta peninggalan orang tuanya dengan tanggung jawab yang diemban. Hal ini membuat kakak laki-laki tertua (kiyay) harus bertanggung jawab terhadap adik perempuannya dan masyarakat marganya. Seorang kakak laki-laki tertua (kiyay) harus memenuhi kebutuhan adik-adiknya, menggantikan peran orang tuanya. Yang dapat menimbulkan perselisihan adalah seorang kakak laki-laki yang tidak bertanggung jawab kepada adik perempuannya, setelah pembagian waris dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara jelas tanggung jawab kakak laki-laki dalam menanggung jawabi saudara perempuannya yang tidak mendapatkan bagian harta waris pada adat Lampung Pepadun. Rumusan masalah dan tujuan masalah yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah, Bagaimana kiyay (kakak laki-laki tertua) pada adat Lampung Pepadun dalam menanggung jawabi saudara perempuannya?. Bagaiamana tinjauan hukum islam terhadap kiyay (kakak laki-laki tertua) pada adat Lampung Pepadun dalam menanggung jawabi saudara perempuannya?. Teori yang digunakan adalah teori patrilineal dan ‘urf terkait kedudukan kakak laki-laki tertua (kiyay). Penelitian ini menggunakan jenis metode kualitatif dengan jenis penelitian lapangan dengan sifat deskriptif analisis. Penelitian ini menggunakan informan, yaitu seorang kiyay (kakak laki-laki tertua), adik perempuan, dan tokoh adat di Tiyuh Negeri Baru. Teknik pengumpulan data primer yang digunakan adalah wawancara dan dokumentasi. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan mengkaji dan menganalisis berbagai literatur hukum yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedudukan kakak lakilaki tertua (kiyay) pada adat Lampung Pepadun dalam menanggung jawabi saudara perempuannya adalah sebuah kewajiban, karena menganut sistem patrilineal. Menurut tinjauan hukum Islam, kedudukan kakak laki-laki (kiyay) dalam menanggung jawabi saudara perempuannya adalah mubah. Namun bertentangan dengan hukum Islam dalam pembagian harta waris ABSTRACT The role of men in Islamic law as well as in Lampung Pepadun customary law is very important and even more dominant. In Lampung Pepadun, the role of the eldest son is highly significant. In matters of inheritance, the eldest son is entrusted with controlling the inheritance of his parents along with the responsibilities attached to it. This makes the eldest brother (kiyay) responsible for his sisters and his community. An eldest brother (kiyay) is expected to fulfill the needs of his younger siblings, taking over the role of his parents. Conflicts may arise when the eldest brother fails to take responsibility for his sisters after the inheritance distribution has been carried out. This research aims to clearly understand the responsibilities of the eldest brother in bearing responsibility for his sisters who do not receive a share of inheritance under Lampung Pepadun customary law. The research problems and objectives raised in this study are: How does the kiyay (eldest brother) in Lampung Pepadun customary law bear responsibility for his sisters? How does Islamic law view the role of the kiyay (eldest brother) in Lampung Pepadun customary law in bearing responsibility for his sisters? The theories applied are the patrilineal theory and the concept of ‘urf concerning the position of the eldest brother (kiyay). This research employs a qualitative method, specifically field research with a descriptive-analytical approach. The informants include a kiyay (eldest brother), younger sisters, and traditional leaders in Tiyuh Negeri Baru. Primary data collection techniques include interviews and documentation, while secondary data is gathered through reviewing and analyzing various relevant legal literatures. The findings show that the position of the eldest brother (kiyay) in Lampung Pepadun customary law, in bearing responsibility for his sisters, is considered an obligation due to the patrilineal system. According to Islamic law, the role of the eldest brother (kiyay) in bearing responsibility for his sisters is considered permissible (mubah). However, this contradicts Islamic law regarding the distribution of inheritance.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: Muamalah (Hukum Ekonomi Syariah)
Divisions: Fakultas Syariah > Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga)
Depositing User: LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI
Date Deposited: 30 Sep 2025 05:07
Last Modified: 30 Sep 2025 05:07
URI: https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/40848

Actions (login required)

View Item View Item