FENY, MAIZA (2025) EKSISTENSI MARSIALAPARI DALAM MENJAGA SOLIDARITAS SOSIAL MASYARAKAT MANDAILING DI DESA YUKUM JAYA LAMPUNG TENGAH. Diploma thesis, UIN Raden Intan Lampung.
|
PDF
Download (1MB) |
|
|
PDF
Restricted to Repository staff only Download (3MB) |
Abstract
ABSTRAK Marsialapari adalah tradisi gotong royong khas suku Mandailing yang masih dipertahankan di Desa Yukum Jaya, Lampung Tengah, meski masyarakatnya hidup di perantauan. Kata "marsialapari" berasal dari gabungan kata dasar alap (panggil) dan ari (hari), bermakna saling menjemput hari, atau saling membantu berdasarkan kesepakatan jumlah hari kerja. Tradisi ini dilakukan dalam kegiatan bertani, khususnya di sawah dan kebun, dengan prinsip tolongmenolong, sukarela, dan penuh kegembiraan. Bila seseorang membantu selama beberapa hari, ia akan dibantu kembali dengan jumlah hari yang sama. Marsialapari mencerminkan nilai-nilai penting dalam budaya Mandailing, seperti: Holong (kasih sayang), Domu (persatuan), Adat Na Tolu (struktur sosial: Kahanggi, Mora, Anak Boru) yang menumbuhkan semangat kebersamaan dan solidaritas. Masyarakat Yukum Jaya tetap mempertahankan tradisi ini untuk melestarikan identitas budaya Mandailing, meskipun mereka tinggal di luar kampung asal. Selain sebagai warisan budaya, tradisi ini juga menjadi bentuk eksistensi religius karena mengandung unsur kepercayaan dan spiritualitas leluhur. Marsialapari adalah tradisi gotong royong masyarakat Batak Mandailing, khususnya di Desa Yukum Jaya, Lampung Tengah, yang menggambarkan bentuk solidaritas sosial tanpa imbalan materi. Tradisi ini lahir dari filosofi hidup masyarakat Mandailing yang menekankan kebersamaan, kesetiakawanan, dan saling percaya, sebagaimana pepatah “ndang tarporsan sahalak pardingdingan” (tidak mungkin mengangkat dinding sendirian). Marsialapari mencerminkan solidaritas mekanik menurut Emile Durkheim, karena masyarakat terlibat dalam aktivitas yang sama dan memegang nilai serta tanggung jawab kolektif. Tidak adanya sistem upah dalam tradisi ini menjadi bukti kuat bahwa kerja dilakukan secara sukarela, didorong oleh rasa saling memiliki dan tanggung jawab bersama. Nilai budaya lokal seperti “mata guru roha sisean” (mata sebagai pengajar hati) menunjukkan bahwa pengalaman, pengetahuan, dan kepekaan batin sangat dihargai dalam bekerja. Marsialapari tidak hanya menjadi solusi praktis pertanian, tapi juga warisan budaya yang memperkuat jalinan sosial masyarakat pedesaan di tengah tantangan modernisasi dan individualisme.Berdasarkan permasalahan tersebut, untuk itu penulis memaparkan beberapa rumusan masalah, yang pertama adalah Bagaimana Eksistensi Tradisi Marsialapari Masyarakat Mandailing Di Desa Yukum Jaya Lampung Tengah ?, yang kedua adalah Bagaimana Tradisi Marsialapari Dalam Menjaga Solidaritas Masyarakat Mandailing Di Desa Yukum Jaya lampung Tengah ? Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi non partisipan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, Marsialapari merupakan bentuk nyata dari solidaritas sosial masyarakat pedesaan, khususnya di Desa Yukum Jaya dan dalam budaya Batak Mandailing. Tradisi ini menggambarkan kerja sama yang dilandasi oleh rasa saling percaya, kesetiakawanan, dan tanggung jawab bersama dalam menyelesaikan pekerjaan pertanian tanpa imbalan materi. Tradisi ini berakar kuat pada pandangan hidup masyarakat Batak yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, seperti pepatah “ndang tarporsan sahalak pardingdingan” (tidak mungkin mengangkat dinding sendirian), yang menekankan pentingnya kerja kolektif. Marsialapari selaras dengan teori solidaritas mekanik dari Emile Durkheim, di mana masyarakat terikat kuat karena kesamaan aktivitas dan nilai-nilai moral yang dianut bersama. Tidak adanya sistem upah dalam tradisi ini memperkuat bukti bahwa hubungan sosial masyarakat terbentuk atas dasar sukarela dan rasa saling memiliki. Tradisi ini juga menunjukkan bahwa pengalaman, pengetahuan, dan kepekaan hati menjadi pedoman penting dalam bekerja, sebagaimana tercermin dalam filosofi “mata guru roha sisean”. Dengan tetap lestarinya Marsialapari hingga kini, dapat disimpulkan bahwa solidaritas sosial merupakan fondasi yang kuat bagi keberlangsungan masyarakat, sekaligus warisan budaya berharga yang mampu menghadapi tantangan individualisme di era modern. Kata Kunci : Marsialapari, Solidaritas, Masyarakat Mandailing.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Sosiologi Agama |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Sosiologi Agama |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 08 Jul 2025 04:27 |
| Last Modified: | 08 Jul 2025 04:27 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/38964 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


