ANALISIS PEMIKIRAN PENDIDIKAN KARAKTER IBNU SINA DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER KI HAJAR DEWANTARA

MUHAMMAD, TAUFIK HIDAYAT (2025) ANALISIS PEMIKIRAN PENDIDIKAN KARAKTER IBNU SINA DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER KI HAJAR DEWANTARA. Diploma thesis, UIN RADEN INTAN LAMPUNG.

[thumbnail of SKRIPSI TAUFIK COVER-BAB II+ DAPUS+ TURNITIN.pdf] PDF
Download (5MB)
[thumbnail of SKRIPSI TAUFIKisi (2).pdf] PDF
Restricted to Repository staff only

Download (6MB)

Abstract

ABSTRAK Fokus utama penelitian ini adalah membandingkan pemikiran dua tokoh besar dalam dunia pendidikan, yaitu Ibnu Sina, seorang filsuf, dokter, dan pendidik Muslim dari abad ke-10, dengan Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Kajian ini bertujuan untuk menggali gagasan pendidikan karakter menurut Ibnu Sina, kemudian melihat relevansi dan kesesuaiannya dengan prinsip prinsip pendidikan karakter yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode analisis literatur. Data diperoleh melalui studi pustaka dari berbagai sumber primer dan sekunder, termasuk karya tulis Ibnu Sina seperti Asy-Syifa dan Kitab an-Najat, serta gagasan Ki Hajar Dewantara yang terangkum dalam konsep Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kedua tokoh hidup dalam konteks sosial dan budaya yang sangat berbeda, terdapat persamaan mendasar dalam pemikiran mereka terkait pentingnya pendidikan karakter untuk membentuk individu yang utuh. Ibnu Sina menekankan pendidikan sebagai proses menyeluruh yang mencakup pengembangan akhlak, intelektual, dan spiritual. Beliau percaya bahwa pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk moralitas dan etika individu. Menurut Ibnu Sina, guru harus menjadi teladan yang baik bagi murid-muridnya, sementara proses pendidikan harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Nilai-nilai seperti tanggung jawab, kejujuran, dan keberanian sangat ditekankan dalam konsep pendidikan Ibnu Sina. Di sisi lain, Ki Hajar Dewantara mengembangkan sistem pendidikan yang bertujuan membangun manusia merdeka, yaitu individu yang mampu berpikir, bertindak, dan bertanggung jawab secara mandiri. Prinsip Tri-N yang diusungnya mencakup aspek kepemimpinan, pemberdayaan, dan pengawasan yang selaras dengan pembentukan karakter peserta didik. Gagasannya sangat menekankan pentingnya pendidikan berbasis budaya lokal, dengan tetap menjunjung nilai-nilai universal seperti kebersamaan, kejujuran, dan tanggung jawab. Analisis menunjukkan bahwa terdapat keselarasan ii antara gagasan Ibnu Sina dan Ki Hajar Dewantara dalam hal peran pendidikan sebagai alat pembentuk karakter. Keduanya sepakat bahwa pendidikan harus diarahkan pada pengembangan manusia secara holistik, meliputi aspek moral, intelektual, emosional, dan sosial. Namun, terdapat perbedaan pada pendekatan dan implementasinya. Ibnu Sina lebih menitikberatkan pada peran agama sebagai fondasi pendidikan karakter, sedangkan Ki Hajar Dewantara menekankan pada pengembangan manusia berdasarkan nilai-nilai budaya dan konteks sosial. Dengan mengintegrasikan konsep Ibnu Sina dan Ki Hajar Dewantara, diharapkan lahir sebuah pendekatan pendidikan karakter yang lebih komprehensif, mampu menjawab tantangan global, namun tetap berakar pada nilai-nilai lokal dan agama. Penelitian ini juga memberikan rekomendasi untuk mengadaptasi nilai-nilai kedua tokoh dalam kurikulum pendidikan karakter di era modern, guna menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bermoral dan berintegritas. Kata kunci: Ibnu Sina, Ki Hajar Dewantara, Pendidikan Karakter, Analisis Pemikiran, Relevansi iii ABSTRACT The main focus of this research is to compare the thoughts of two great figures in the world of education, namely Ibnu Sina, a philosopher, doctor and Muslim educator from the 10th century, with Ki Hajar Dewantara, the Father of Indonesian National Education. This study aims to explore the idea of character education according to Ibnu Sina, then see its relevance and suitability to the principles of character education developed by Ki Hajar Dewantara. The research approach used is qualitative with literature analysis methods. Data was obtained through literature study from various primary and secondary sources, including Ibn Sina's written works such as Asy-Syifa and Buku an-Najat, as well as the ideas of Ki Hajar Dewantara which are summarized in the concepts of Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, and Tut Wuri Handayani . The research results show that even though the two figures live in very different social and cultural contexts, there are fundamental similarities in their thinking regarding the importance of character education to form a complete individual. Ibn Sina emphasized education as a comprehensive process that includes moral, intellectual and spiritual development. He believes that education not only functions to transfer knowledge, but also shapes individual morality and ethics. According to Ibnu Sina, teachers must be good role models for their students, while the educational process must be adjusted to the child's stage of development. Values such as responsibility, honesty and courage are highly emphasized in Ibn Sina's educational concept. On the other hand, Ki Hajar Dewantara developed an education system which aims to build independent humans, namely individuals who are able to think, act and be responsible independently. The Tri-N principles he promotes include aspects of leadership, empowerment and supervision that are in line with the formation of student character. The idea really emphasizes the importance of education based on local culture, while still upholding universal values such as togetherness, honesty and responsibility. The analysis shows that there is harmony between the ideas of Ibn Sina and Ki Hajar Dewantara in iv terms of the role of education as a tool for forming character. Both agree that education must be directed at holistic human development, including moral, intellectual, emotional and social aspects. However, there are differences in approach and implementation. Ibnu Sina focuses more on the role of religion as the foundation of character education, while Ki Hajar Dewantara emphasizes human development based on cultural values and social context. By integrating the concepts of Ibnu Sina and Ki Hajar Dewantara, it is hoped that a more comprehensive approach to character education will emerge, capable of responding to global challenges, but still rooted in local and religious values. This research also provides recommendations for adapting the values of the two figures in the character education curriculum in the modern era, in order to create a generation that is not only intelligent, but also moral and has integrity. Keywords: Ibnu Sina, Character Education, Ethics, Relevance, Modern Education

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: Pendidikan Agama islam
Divisions: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan > Pendidikan Agama islam
Depositing User: LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI
Date Deposited: 21 May 2025 03:49
Last Modified: 21 May 2025 03:49
URI: https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/38400

Actions (login required)

View Item View Item