Nisya, Pertiwi (2025) PANDANGAN HUKUM ISLAM TENTANG PELAKSANAAN AKKEN MUWAGHEI PADA MASYARAKAT ADAT LAMPUNG PEPADUN (Studi Kasus Di Desa Tiyuh Panaragan Kecamatan Tulang Bawang Tengah Kabupaten Tulang Bawang Barat). Diploma thesis, UIN Raden Intan Lampung.
|
PDF
Download (4MB) |
|
|
PDF
Restricted to Repository staff only Download (4MB) |
Abstract
ABSTRAK Penelitian ini berjudul “Pelaksanaan Akken Muwaghei Pada Masyarakat Adat Lampung Pepadun”. Hukum adat adalah kebiasaan manusia dalam hidup bermasyarakat untuk menjamin pelaksanaan adat tersebut dalam masyarakat maka kesepakatan masyarakat menunjuk sekelompok kecil orang untuk mengatur, menyelenggarakannya, yang disebut dengan tokoh adat. Budaya akken muwaghei adalah budaya mengangkat kerabat/keluarga dengan pengambilan sumpah yang menjadi kebiasaan dari nenek moyang orang lampung. Akken muwaghei bisa dilakukan tidak hanya pada masyarakat adat lampung pribumi atau orang lampung tetapi berlaku untuk lintas suku. Penelitian ini penulis akan membahas rumusan masalah yang pertama bagaimana proses pelaksanaan akken muwaghei pada masyarakat adat lampung pepadun di Desa Tiyuh Panaragan Kecamatan Tulang Bawang Barat Kabupaten Tulang Bawang Tengah ?. kedua bagaimana pandangan hukum Islam terhadap proses pelaksanaan akken muwaghei pada masyarakat adat lampung pepadun di Desa Tiyuh Panaragan Kecamatan Tulang Bawang Tengah Kabupaten Tulang Bawang Barat ?. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research) dan bersifat deskriptif analitik. Sedangkan data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder, yang mendukung data resmi data yang diperoleh menggunakan Teknik wawancara langsung, observasi lapangan dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini maka penulis menemukan bahwasannya pelaksanaan akken muwaghei pada masyarakat adat lampung pepadun di Desa Tiyuh Panaragan dalam adat lampung pepadun terdapat suatu pelaksanaan adat istiadat yang sampai saat ini tetap dilaksanakan dalam mengangkat orang yang sebelumnya tidak mempunyai aliran darah dan diangkat menjadi keluarga, Masyarakat melaksanakan proses akken muwaghei karena menurut mereka ketentuan itu sudah dilakukan secara turun temurun setiap diadakannya upacara adat khususnya adat lampung pepadun dan berlaku sampai dengan saat ini. Proses Pelaksanaan akken muwaghei tersebut tergantung kesepakatan antara kedua belah pihak antara calon yang akan mengangkat (meng-akken) dan calon yang akan di angkat (di-akken). Dengan mengikuti aturan adat dan hasil musyawarah antara kedua belah pihak dan para punyimbang adat, jadi dengan mengeluarkan uang adat (Dau) yakni bersifat wajib untuk dapat dipenuhi berapapun jumlahnya dan disesuaikan dengan Pepadun yang mengangkatnya (meng-akken). Kata Kunci : Hukum Islam, Pelaksanaan Akken Muwaghei. ABSTRACT This research is entitled “Implementation of Akken Muwaghei in Lampung Pepadun Customary Society”. Customary law is a human habit in social life to ensure the implementation of these customs in society, so the community agreement appoints a small group of people to organize, organize it, which is called a traditional leader. Akken muwaghei culture is a culture of appointing relatives/family by taking an oath which is a custom from the ancestors of the Lampung people. Akken muwaghei can be done not only in indigenous Lampung people or Lampung people but applies to cross-tribes. In this research, the author will discuss the first problem formulation, how is the process of implementing akken muwaghei in the Lampung Pepadun indigenous community in Tiyuh Panaragan Village, West Tulang Bawang District, Central Tulang Bawang Regency? secondly, what is the view of Islamic law on the process of implementing akken muwaghei among the Lampung Pepadun indigenous community in Tiyuh Panaragan Village, Tulang Bawang Tengah District, West Tulang Bawang Regency? This research uses a qualitative approach with field research and is descriptive analytical in nature. Meanwhile, the data collected is primary and secondary data, which supports official data, data obtained using direct interview techniques, field observations and documentation. As a result of this research, the author found that the implementation of the muwaghei akken in the Lampung Pepadun traditional community in Tiyuh Panaragan Village in the Lampung Pepadun custom there is an implementation of customs which to this day is still implemented in appointing people who previously had no blood flow and being appointed to the family, community carrying out the process of akken muwaghei because according to them this provision has been carried out for generations every time a traditional ceremony is held, especially the Lampung Pepadun tradition and is in effect to this day. The process of implementing the muwaghei akken depends on the agreement between both parties between the candidate who will be appointed (akkened) and the candidate who will be appointed (ackened). By following customary rules and the results of deliberations between the two parties and the customary punyimbang, issuing customary money (Dau) is mandatory and can be fulfilled regardless of the amount and adjusted to the Pepadun who appointed it (akken). Keywords: Islamic Law, Implementation of Akken Muwaghei.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga) |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga) |
| Depositing User: | LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI |
| Date Deposited: | 06 Feb 2025 02:11 |
| Last Modified: | 06 Feb 2025 02:11 |
| URI: | https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/37281 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |


