MAKNA TRADISI SEPASARAN SETELAH KELAHIRAN BAYI DI DESA WAY KUYUNG KALIANDA

Handoko, Putra Siswoyo (2025) MAKNA TRADISI SEPASARAN SETELAH KELAHIRAN BAYI DI DESA WAY KUYUNG KALIANDA. Diploma thesis, UIN Raden Intan Lampung.

[thumbnail of SKRIPSI PERPUSTAKAAN.pdf] PDF
Download (1MB)
[thumbnail of SKRIPSI FULL.pdf] PDF
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract

ABSTRAK MAKNA TRADISI SEPASARAN SETELAH KELAHIRAN BAYI DI DESA WAY KUYUNG KALIANDA Oleh Handoko Putra Siswoyo Indonesia adalah negara yang kaya dengan perbedaan, diantarranya adalaah perbedaan agama, suku, bahasa, dan tradisi serta budaya. Salah satu suku mayoritas di Indonesia adalah suku Jawa yang memiliki kekayaan tradisi dan budaya. Dalam beragama suku Jawa mayoritas beragama Islam, hal ini lah yang menjadikan masyarakat Jawa-Islam untuk menjaga adat istiadat dari nenek moyang tetapi dengan nilai-nillai Islam. Sepasaran adalah salah satu tradisi suku Jawa yang masihh dilestarikan hingga sekarang, maka penulis memiliki ketertarikan untuk melakukan penelitian mengenai sepasaran yang lahir dari adat istiadat Jawa dan bagaimana penyesuaiannya dengan nilai-nilai Islam, khususnya tradisi sepasaran di Desa Way Kuyung, Kalianda. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat deskriptif-kualitatif. Sumber data yang diambil dari responden utama, yaitu tokoh agama dan masyarakat di Desa Way Kuyung, Kalianda dengan menggunakan meetode wawancara yaang didukung dengan observasi dan juga dokumentasi. Data tersebut akan diulas secara mendalam menggunakan teori simbolis milik Victor W. Turner dan juga teori fungsionalisme agama milik Emile Durkheim. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tradisi sepasaran bagi masyarakat Way Kuyung, Kalianda adalah bentuk rasa syukur dan do’a serta harapan yang dimintakan kepada Allah Swt., selain itu juga pelaksanaan terhadap sunah rasul saw., dan terakhir makna yang ingin dicapai perasaan satu kesatuan agama atau ukhuwah islamiyah yang tidak memandang suku dalam pelaksanaan tradisi ini. Lalu terdapat relevansi atau kecocokan tradisi sepasaran bayi di desa Way Kuyung, Kalianda terhadap nilai-nilai agama Islam; hal ini diperbolehkan atau sesuai karena telah masuknya nilai-nilai Islam seeperti aqiqah dan pembacaan sholawat dan dihilangkannya sesuatu yang dilarang seperti sesajen diubah menjadi berkat yang menjadi simbol sedekah. Kata Kunci: Sepasaran, Tradisi, Funngsionalisme Agama. ABSTRACT THE MEANING OF THE SEPASARAN TRADITION AFTER THE BIRTH OF A BABY IN WAY KUYUNG KALIANDA VILLAGE By Handoko Putra Siswoyo Indonesia is a country rich in differences, including differences in religion, ethnicity, language, and traditions and culture. One of the majority tribes in Indonesia is the Javanese tribe which has rich traditions and culture. In the Javanese religion, the majority are Muslim, this is what makes the Javanese Islamic community maintain the customs of their ancestors but with Islamic values. Sepasaran is one of the Javanese traditions that is still preserved today, so the author has an interest in conducting research on sepasaran which was born from Javanese customs and how it adapts to Islamic values, especially the sepasaran tradition in Way Kuyung Village, Kalianda. This research is descriptive-qualitative field research. The data source was taken from the main respondents, namely religious and community leaders in Way Kuyung Village, Kalianda using an interview method which was supported by observation and documentation. This data will be reviewed in depth using Victor W. Turner's symbolic theory and Emile Durkheim's theory of religious functionalism. The results of this research show that the sepasaran tradition for the people of Way Kuyung, Kalianda is a form of gratitude and prayer as well as hope asked of Allah SWT, apart from that it is also the implementation of the sunnah of the Messenger of Allah, and finally the meaning that the feeling of one religious unity wants to achieve. or ukhuwah Islamiyah which does not look at ethnicity in implementing this tradition. Then there is the relevance or suitability of the baby sepasaran tradition in Way Kuyung village, Kalianda to Islamic religious values; This is permissible or appropriate because Islamic values such as aqiqah and prayer reading have been included and the removal of something that is prohibited such as offerings has been converted into a blessing which is a symbol of alms. Keywords: Sepasaran, Tradition, Religious Functionalism.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: Perbandingan Agama
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Perbandingan Agama
Depositing User: LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI
Date Deposited: 13 Jan 2025 07:23
Last Modified: 13 Jan 2025 07:23
URI: https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/36976

Actions (login required)

View Item View Item