MAKNA SHIYAM DALAM AL-QUR’AN (PERSPEKTIF TAFSIR ATH-THABARI DAN TAFSIR AL-MISHBAH)

Abdy, Pracassa Ramadhan (2024) MAKNA SHIYAM DALAM AL-QUR’AN (PERSPEKTIF TAFSIR ATH-THABARI DAN TAFSIR AL-MISHBAH). Diploma thesis, UIN Raden Intan Lampung.

[thumbnail of Skripsi 1-2.pdf] PDF
Download (4MB)
[thumbnail of Skripsi Abdy Pracassa Ramadhan.pdf] PDF
Restricted to Repository staff only

Download (4MB)

Abstract

ABSTRAK Allah SWT memberikan perintah kepada setiap orang yang beriman kepadanya bahwa mereka yang beriman harus melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya, salah satu perintahnya adalah berpuasa, seperti yang tertera pada surah al-Baqarah ayat 183, bahwa Allah SWT menyerukan perintah kepada orang yang beriman untuk berpuasa, yang mana berpuasa merupakan kewajiban yang pernah ada pada masa sebelumnya, dan perintah puasa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah penyempurnanya. Penelitian ini adalah penelitian yang bersumber data pada aspek teks, yaitu sebagian besar kutipan atau sumber referensi berasal dari bahan tertulis seperti buku maupun karya tulis ilmiah lainnya, yang dinamakan sebagai penelitian pustaka (library research). Penelitian ini dimulai dari membahas terkait dengan awal mula puasa yang pernah dilakukan oleh para Nabi sebelumnya, kemudian mengkorelasikannya dengan implikasi dari berpuasa yaitu hikmah dan manfaatnya, sehingga pendekatannya bersifat historis dan deskriptif analisis, peneliti mengumpulkan semua sumber elemen tertulis yang relevan dengan penelitian ini dan kemudian menyeleksinya, dan kemudian menghasilkan data dan hasil penelitian yang selektif dan akuntabel. Hasilnya yaitu pertama peneliti menguraikan makna shiyam dalam konteks literal yang berarti “menahan” sesuatu, yang jika dibedah maka asal katanya adalah shāma (صام (dan kemudian berubah mengikuti wazan عاالِ َف dan mauzunnya yakni صياما sehingga melahirkan makna yang spesifik yaitu berpuasa. Selanjutnya menurut ath-Thabari bahwa shiyam bermakna “berhenti” yakni berhenti dari berbagai aktivitas yang telah Allah tentukan, seperti makan dan minum serta berhubungan badan, dan menurut Quraish Shihab makna arti dari shiyam yaitu “menahan” artinya ada sesuatu yang perlu ditahan “segala sesuatu yang mestinya tidak dikeluarkan, karena mengharapkan sesuatu yang lebih baik”. Inti dari keduanya adalah bahwa shiyam bermakna “berhenti” dan “menahan” yang sangat korelatif, bahwa antara “berhenti dan menahan” saling berhubungan erat, yakni berhenti dari hal-hal yang dilarang oleh Allah untuk sementara waktu dan menahan untuk tidak melakukannya dengan berbagai macam ujian yang ada. Lantas kemudian bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam makna shiyam tersebut? Shiyam memiliki nilai takwa, karena seseorang yang berpuasa pasti berimplikasi takwa, apa yang telah ditahannya dan berhenti pasti melahirkan ketakwaan dan juga nilai lainnya yang terkandung adalah bahwa melalui shiyam seseorang meneladani sifat-sifat Allah, seperti salah satunya yaitu bahwa Allah tidak beranak dan diperanakan yang kemudian dipahami adalah meninggalkan sejenak akivitas seksualitas dan juga bahwa Allah tidak butuh makan, maka dari situ dipahami belajar sejenak untuk meninggalkan makan dan minum dalam jangka waktu tertentu. Kata Kunci: Shiyam, al-Qur’an, ath-Thabari, al-Mishbah.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI
Date Deposited: 07 Aug 2024 04:00
Last Modified: 07 Aug 2024 04:00
URI: https://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/34461

Actions (login required)

View Item View Item