MAKNA SESAJEN DALAM RITUAL TILEM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL KEAGAMAAN (Studi Pada Umat Hindu Di Desa Bali Sadhar Tengah Kecamatan Banjit Kabupaten Way Kanan)

Erviana, Leni (2017) MAKNA SESAJEN DALAM RITUAL TILEM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL KEAGAMAAN (Studi Pada Umat Hindu Di Desa Bali Sadhar Tengah Kecamatan Banjit Kabupaten Way Kanan). Undergraduate thesis, UIN Raden Intan Lampung.

[img]
Preview
PDF
Download (3MB) | Preview

Abstract

Tulisan ini menjelaskan bagaimana maksud sesajen pada ritual Tilem serta implikasinya terhadap sosial keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Sesajen tersebut dipersembahkan kepada Tuhan, dewa, roh leluhur yang disebut sebagai begu jabu. Sesajen sebagai wujud atau pernyataan diri bahwa saat itu mereka melakukan pemujaan pada dewa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat menggambarkan (deskripsi). Untuk memperoleh informasi tentang makna, tujuan, bentuk dan jenis, cara persembahna sesajen, serta tata cara ritual Tilem dan implikasinya pada kehidupan sehari-hari. Peneliti melakukan wawancara mendalam dengan informan kunci seperti pemimpin umat Hindu, Kepala Desa, Pemangku Adat, Tokoh masyarakat dan beberapa umat Hindu sendiri. Observasi dilakukan untuk mengamati kegiatan- kegiatan yang dilakukan oleh umat Hindu, khususnya di Desa Bali Sadhar Tengah, dalam hal upacara Ritual Tilem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis dan bentuk sesajen yang digunakan adalah berupa bunga yang bermakna cinta kasih, ketulusan, rasa hormat. Buah–buahan memiliki makna hasil jerih payah manusia didalam berkerja yang akan dipersembahkan. Air merupakan sarana penyucian jiwa dan badaniah seseorang. Api yang disimbolkan dalam bentuk dupa yang memiliki makna sebagai peghubung antara pemuja dengan yang dipuja, sebagai saksi penghantar persembahan, serta penetralisir dari roh-roh jahat. Beras sebagai lambang kemakmuran dan kesuburan. Minyak wangi sebagai lambang ketenangan jiwa, pengendalian diri, serta sebagai penambah keharuman dari sesajen. Makanan berupa ketupat dan makanan tradisional lainnya merupakan makna dari hasil kreatifitas dan pengetahuan manusia, dan sebagai pelengkap dan memperindah isi dari sesajen. Uang perak sebagai lambang dari kemakmuran. Dalam berbagai persiapan untuk melakukan ritual Tilem dari mulai persiapan sampai terselesaikanya upacaraTilem tersebut para umat Hindu harus menjalankanya dengan tertib sesuai dengan panduan pemangku adat selaku pemandu berjalannya acara. Adapun ritual Tilem ditujukan kepada Dewa Siwa yang sedang bermeditasi pada malam itu (malam matinya bulan atau malam gelap). Pelaksanaan ritual Tilem jatuh pada 30 hari sekali dalam hitungan kalender Bali yang tidak jauh jaraknya dengan ritual purnama (munculnya bulan). Pada awal-awalnya di Desa Bali Sadhar Tengah ini masyarakatnya kurang semangat dalam menjalani ibadahnya yakni menjalankan Ritual Tilem sehingga banyak juga hal-hal yang kurang baik seperti bermain judi, sabung ayam, minum-minuman keras, khususnya para remajanya yang suka hura-hura, pergaulan yang kurang baik. Dengan tertibnya pelaksanaan ritual ini nampaknya membawa dampak yang positiv sangat terlihat perbedaanya antara umat yang melaksanakan upacara ini dengan yang tidak melaksanakanya. Umat yang melaksanakan upacara Tilem ini banyak hal-hal yang didapat baik dalam atau luar dirinya seperti menambah panca dan sradanya (iman dan keyakinannya), kekuatan spiritualnya dan menambah banyak saudara. Semua kegiatan Ritual Tilem tersebut merupakan perwujudan rasa bakti dan hormat seseorang terhadapTuhan dan segala manifestasi-Nya yaitu Dewa dan Dewi, serta roh leluhur (begu jabu).

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Subjects: Perbandingan Agama
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Perbandingan Agama
Depositing User: Brama Sari
Date Deposited: 13 Jul 2017 07:13
Last Modified: 13 Jul 2017 07:13
URI: http://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/791

Actions (login required)

View Item View Item