PENAFSIRAN AYAT POLIGAMI DALAM PERSPEKTIF HERMENEUTIKA NAṢR ḤĀMID ABŪ ZAYD DAN HANS GEORGE GADAMER

Rani, Larasati (2021) PENAFSIRAN AYAT POLIGAMI DALAM PERSPEKTIF HERMENEUTIKA NAṢR ḤĀMID ABŪ ZAYD DAN HANS GEORGE GADAMER. Undergraduate thesis, UIN Raden Intan Lampung.

[img] PDF
Download (4MB)
[img] PDF
Restricted to Repository staff only

Download (4MB)

Abstract

ABSTRAK Sebagian besar masyarakat muslim memahami bahwa poligami merupakan bagian dari sunnah. Disamping Nabi juga melalukan poligami, asumsi ini juga diperkuat melalui pemahaman atas surat An-Nisā‟: 3. Dalam memahami dalil poligami dengan menggunakan pendekatan tekstualitas, para ulama klasik tidak ada perdebatan terkait hukum bolehnya poligami, yang menjadi perdebatan justru batasan jumlah perempuan yang boleh dinikahi. Para ulama Syi‟ah berpendapat bahwa jumlah maksimal perempuan yang boleh dinikahi adalah sembilan orang perempuan, bahkan ada lagi yang berpendapat hingga 18 orang perempuan. Namun, ulama- ulama Ahl-Sunnah wal Jama‟ah seperti Aṭ-Ṭabari, Aṣ-Ṣabūnī, Ibnu Kaṡir, dan lainnya berpendapat bahwa batasan jumlah perempuan yang boleh dipoligami hanya empat orang istri saja. Bahkan Aṣ- Ṣabūnī dalam tafsirnya rawai’ul bayan mengungkapkan beberapa hikmah dari poligami. Sementara melihat situasi era modern seperti saat ini yang notabene pernikahan poligami juga menyumbangkan banyak dampak negatif bagi perempuan, apakah pemahaman yang demikian masih relevan untuk diterapkan?. Untuk itu, peneliti akan menganalisa kembali secara menyeluruh teks poligami dengan menggunakan kajian hermeneutika yang kaya akan pemahaman kontekstualnya, dalam hal ini peneliti memilih teori hermeneutika yang diusung oleh Naṣr Ḥāmid Abū Zayd dan Hans-George Gadamer. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu apa pola yang dipakai Abū Zayd dan Gadamer dalam interpretasi teks? dan bagaimana penerapan pola hermeneutika Abū Zayd dan Gadamer pada ayat poligami? Untuk mengklarifikasi rumusan masalah tersebut, peneliti menggunakan metode content analysis (analisis isi) dengan pendekatan muqaran. Penelitian ini juga ditunjang oleh studi kepustakaan (library reseacrh) untuk mengumpulkan data-data yang relevan dengan pembahasan pada skripsi ini. iiTemuan dari penelitian ini mengungkapkan bahwa, dalam interpretasi teks Abū Zayd menggunakan pola makna dan maghza, sedangkan Gadamer menggunakan pola peleburan horizon. Dengan penggunaan pola hermeneutika Abū Zayd dalam interpretasi ayat poligami dapat disimpulkan bahwa poligami dilarang. Kesimpulan Abū Zayd untuk sampai pada pernyataan larangan poligami ini terkesan buru-buru sehingga terjebak kedalam ideologi feminismenya sendiri. Sedangkan Gadamer, poligami boleh dilakukan tetapi hanya kepada para janda dan yatim yang tidak mampu. Akan tetapi, penelusuran makna dengan teori Gadamer ini bersifat temporal sebagaimana situasi interpreter yang berbeda-beda disetiap zaman, sehingga makna bisa saja berubah-ubah seiring perkembangan zaman yang mengitari dunia penafsir. Adapun persamaan penafsiran keduanya ialah sama-sama menjunjung tinggi nilai keadilan. Dan secara teori keduanya merupakan hermeneutika subjektif, dimana penafsir menjadi peran penting dalam menentukan makna. Namun, dalam teori Gadamer subjek tidak sepenuhnya berhak menentukan makna, atau dengan kata lain masih mempertimbangkan kembali makna objektif. Berbeda dengan Abū Zayd yang memberikan haknya secara keseluruhan kepada penafsir untuk menentukan makna. Kata kunci: Hans-George Gadamer, Hermenenutika, Naṣr Ḥāmid Abū Zayd, Poligami iiiABSTRACT Most Muslim societies understand that polygamy is part of the Sunnah. Besides the Prophet also practiced polygamy, this assumption is also strengthened through the understanding of the letter An-Nisā ': 3.In understanding the proposition of polygamy using a textual approach, classical scholars do not have a debate regarding the law on the permissibility of polygamy, which becomes a debate on the limit of the number of women who can be allowed. be married. The Shi'ah scholars are of the opinion that the maximum number of women who can be married is nine women, and some even argue that up to 18 are women. However, scholars of Ahl-Sunnah wal Jama'ah such as Aṭ- Ṭabari, Aṣ-Ṣabūnī, Ibn Kaṡir, and others argue that the limit on the number of women who can be polygamous is only four wives. Even Aṣ-Ṣabūnī in his interpretation of rawai'ul bayan revealed some wisdom from polygamy. While looking at the situation in the modern era like today, which in fact polygamous marriage also has many negative impacts on women, is this understanding still relevant to be applied? For this reason, the researcher will thoroughly reanalyze the polygamy text using hermeneutic studies which are rich in contextual understanding, in this case the researcher chooses the hermeneutic theory proposed by Naṣr Ḥāmid Abū Zayd and Hans-George Gadamer. The formulation of the problem in this study is what is the pattern used by Abū Zayd and Gadamer in text interpretation? and how is Abū Zayd and Gadamer's hermeneutic pattern applied to the polygamy verse? To clarify the formulation of the problem, the researcher used a content analysis method with a muqaran approach. This research is also supported by library research (library research) to collect relevant data with the discussion in this thesis. The findings of this study reveal that, in the interpretation of the text, Abū Zayd uses a meaning and maghza pattern, while Gadamer uses a horizon fusion pattern. By using Abū Zayd's hermeneutic pattern in the interpretation of the polygamy verse, it can ivbe concluded that polygamy is prohibited. Abū Zayd's conclusion to arrive at this statement on the prohibition of polygamy seems hasty so that he is trapped into his own feminist ideology. Meanwhile, Gadamer, polygamy may be practiced, but only to poor widows and orphans. However, the search for meaning with Gadamer's theory is temporal as the interpreter's situation varies from time to time, so that the meaning may change along with the times that surround the interpreter's world. The similarities in the interpretation of the two are that they both uphold the value of justice. And in theory, both are subjective hermeneutics, where the interpreter plays an important role in determining meaning. However, in Gadamer's theory the subject is not fully entitled to determine the meaning, or in other words still reconsider the objective meaning. Unlike Abū Zayd who gave the interpreter the overall right to determine meaning. Keywords: Hans-George Gadamer, Hermenutika, Naṣr Ḥāmid Abū Zayd, Polygamy

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Subjects: Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: LAYANAN PERPUSTAKAAN UINRIL REFERENSI
Date Deposited: 06 May 2021 04:26
Last Modified: 06 May 2021 04:26
URI: http://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/14188

Actions (login required)

View Item View Item